Blognya si Sri

January 24, 2010

Blunder

Filed under: bailout,bank century,bank indonesia,bank mutiara — srikripik @ 5:09 am

Sebetulnya sudah lama pengen nulis topik ini. Mengapa orang pinter, best of the best, bikin blunder? what were they thinking? Sepintas, jawabannya mudah: manusia bikin salah; and we all make mistakes. Tapi ketika yang bikin salah itu pemimpin, pejabat, yang punya segitu banyak anak buah (yang juga orang2 pinter), wajar kalau kita wondering: kok bisa ya?? (Apalagi kalau kesalahan itu punya konsekuensi yang serius macam Century saga ini…).
Dari dongeng2 decision making science, ternyata smart people do make mistakes. Pemimpin bikin salah. Kenapa mereka bisa salah? Kenapa Sri Mulyani, Boediono (menurut saya) bikin blunder dengan mengucurkan uang ke Century walaupun….?
Teorinya ternyata cukup menarik. Ini dongengnya….

Tiap hari kita bikin keputusan. Mulai dari mau tidur jam berapa, pakai baju apa, mau sarapan apa, sampai keputusan yang sulit seperti mau married kapan, mau jadi apa, beli rumah di mana, mau urusan sampai pengadilan atau selesai kekeluargaan, dst. Ada hal2 yang bisa diputuskan dengan mudah, ada yang tidak; ada yang bisa diputuskan sambil santai2 duduk di sofa, ada yang diputuskan dalam kondisi “under pressure”.

Kita sering tidak menyadari, bikin keputusan adalah suatu proses. Tidak hanya dalam bentuk rapat bolak-balik atau memo2. Bikin keputusan itu proses didalam otak kita. Sama seperti ketika kita gerakkan jari2 untuk tekan keyboard komputer…kita, yang normal, biasanya tidak menyadari bahwa ada sekian tahap yang terjadi di otak sampai akhirnya otak bisa bikin perintah ke otot di tangan dan jari untuk “mengetik”. Belum lagi proses di otak yang berkaitan dengan “bahasa” atau “kalimat”. Kita bisa mengetik kata demi kata dan bukan huruf acak, itu semua meupakan serangkaian tahapan yang rumit di otak kita. (Tuhan Hebat ya??). Itu sebabnya, bikin keputusan, tidak hanya berkaitan dengan kepandaian seseorang. Neuro science membantu kita memahami kenapa orang bisa “risk-taking” atau bisa “risk-averse” (terlalu hati2).

Di ilmu sosial, ada cabang ilmu yang namanya “cognitive science”. Setau saya, disiplin ilmu ini mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan “berpikir”. Cognitive science perpaduan antara ilmu sosial dan eksakta: antropologi, linguistik, edukasi, artificial intelligence, psikologi, neuroscience, filsafat (philosophy). Turunan ilmu ini banyak dipakai di ilmu management, khususnya “decision making science”. Kenapa ilmu management? Karena “bikin keputusan” bagian dari tugas manajer.
Bailout Century kok dikait-kaitkan dengan cognitive science, decision making science, neurologi segala…gila ‘kali penulis blog ini..ya…?? Tidak; orang “sakit” tidak bakal ngeblog. Bikin keputusan (decision making) itu ada ilmunya-merupakan disiplin ilmu tersendiri. Riset mengenai decision making under pressure, di Amerika, malah sudah digunakan untuk meningkatkan kinerja militer. Kalau tidak percaya, silahkan ke http://www.amazon.com/ atau http://www.barnesandnoble.com/ cari “advanced search” mereka, lalu ketik “decision making”. Atau ketik judul buku yang saya paste di atas; dan cari “similar books”. Buku2 mengenai hal ini banyak sekali; yang dibahas tidak hanya keputusan yang bikin sukses (misal The IBM way dan semacamnya), tapi juga keputusan2 yang salah.

Saat ini, kita terus2an dijejali berita mengenai bagaimana pejabat2 otoritas keuangan (khususnya Sri Mulyani dan Boediono) bikin keputusan bailout bulan November 2008. Kecaman berhamburan; pembelaan juga tidak kalah gencar. Setau saya, tidak ada yang melihat keputusan yang dibuat malam itu dan konsekuensinya dari sisi manajemen atau decision science. Mengapa mereka berdua bikin keputusan seperti itu? Selama ini jawabannya (tepatnya tuduhan kepada mereka berdua) adalah : maling, korupsi. Kenapa anda berdua bikin keputusan seperti itu (bailout) karena anda berdua maling, koruptor. Padahal, pembuktian “maling” harus melalui jalur hukum, dengan bukti2nya. Itu urusan KPK, PPATK, Kejaksaan dan Polisi. Seandainya ada yang punya bukti Sri Mulyani dan Boedionon itu maling, ya serahkan saja buktinya ke penegak hukum.

Saya memilih untuk “nggrundelin” keputusan bailout dari sisi decision science-daripada nuduh “maling” atau “koruptor”- karena (1) saya tidak punya hard evidence pejabat yang bikin keputusan bailout itu korup atau maling; kalau ada, sudah saya tulis diblog ini lengkap dengan scanned documents, audio atau video pembicaraan dlsb. (2) dari yang saya baca, memang leaders do make mistakes. Itu fakta. Bikin keputusan pada saat ketidakpastian begitu besar, sama seperti komandan di medan perang bikin keputusan apa yang harus dilakukan pasukannya; seperti dokter yang harus segera bikin keputusan ketika tengah melakukan operasi terhadap pasien (dan menemukan hal2 yang tidak diharapkan ditengah2 operasi); seperti juga pemadam kebakaran hutan yang berhadapan dengan angin dan api (=cuaca) yang bisa berubah mendadak. Kalau akhirnya keputusan critical itu bikin sepasukan tentara tewas, bikin pasien meninggal, bikin tim pemadam kebakaran malah tewas terbakar…(=blunder), menurut saya, ya jangan langsung nuduh pengambil keputusan sebagai pembunuh toh? (Lalu dikenai tuduhan “man slaughter”….) Kesalahan dalam bikin keputusan bisa dijelaskan secara ilmiah tanpa harus menghamburkan fitnah (kalau ada bukti ya itu tadi, serahkan saja ke penegak hukum biar diproses). Sebaliknya, penjelasan kenapa orang pinter bikin salah dalam pengambilan keputusan juga bukan pembenaran membabibuta atas kesalahan yang terjadi. Banyak riset mengenai “blunder” karena yang salah bikin keputusan itu bukan hanya otoritas keuangan Indonesia; CEO2 perusahaan besar di Amerika juga bikin salah(berkali2); tokoh2 politik juga bikin salah (dan harganya amat-sangat-mahal sekali….ingat keputusan GW Bush invasi ke Irak?). Salah, ya salah. Supaya kesalahan tidak terulang, “kenapa sampai salah” musti dipelajari.

Donalee Markus, penulis buku “Retrain your business brain” bilang, orang pinter bikin salah (dalam pengambilan keputusan) bukan karena “stupidity, ignorance atau apathy”, tapi karena “they get so focused on doing things right that they lose sight of the right things to do“. Lha memang apa beda “doing things right” dengan “right things to do”?? Katanya, yang pertama itu ciri “efficient people”, yang kedua ciri “effective people”. (Donalee Markus punya website yang menurut saya cukup menarik http://www.designsforstrongminds.com/)

Orang pinter dan sukses, cenderung “terpesona oleh kesuksesannya” sehingga mereka terlalu percaya diri. Mengapa sampai bisa bersikap seperti itu? Menurut Donalee, ini ada kaitannya dengan kerja otak manusia. Ceritanya gini. Apa yang kita lihat, dengar, rasakan dan cium (dalam arti smell bukan kiss), pertama2 dikirim ke hippocampus. Apa itu hippocampus? Katanya, hippocampus itu pegang peranan penting dalam hal “memory”. Dari sini, segala gambaran (hasil penglihatan), suara, bau dsb, dikirim ke limbic system. (Limbic system itu organ penting dalam kaitannya dengan “emosi”; bagian dari otak ini selesai terbentuk lebih dulu dari prefrontal cortex-yang penting bagi kemampuan untuk “mempertimbangkan konsekuensi tindakan”. Itu sebabnya remaja cenderung lebih emosional dari orang dewasa, mudah dipengaruhi kelompoknya, mudah terperangkap penggunaan obat bius. Prefrontal cortex remaja “belum jadi” seperti cortex orang yang umurnya lebih tua). Di limbic system emosi disimpan, kemudian dikirim lagi ke macam2 bagian otak sesuai “klasifikasi”nya. Tapi, kalau limbic system ini tertutup atau terblokir oleh sesuatu- misalnya faktor suka atau tidak suka- informasi yang masuk melalui indera manusia akan lewat begitu saja, tidak disimpan. (Ibarat kerja di komputer, lansung ter-delete, bahkan di trash bin-pun tidak tersimpan). Akibatnya, di otak, tidak ada “file” yang mungkin akan berguna untuk referensi di masa yang akan datang.
Otak orang pinter, sukses, sering dipuji2 orang di media secara tidak sadar memblokir informasi2 yang sebetulnya penting. (Membayangkan bagaimana jadi orang sukses, pinter, jadi role model, dan nama sering disebut di media masa sebagai “sumber pencerahan” itu susah-terutama untuk orang biasa2 kayak saya. Tapi, bayangkan saja kalau kita berdiri di atas panggung tinggi dan semua orang nunggu kita bicara…mereka siap ngikut…gimana rasanya…). They took themselves too seriously, kata Donalee. Mereka jadi terlalu percaya diri, karena merasa spesial dan berpikir begini: “apa yang terjadi “disana” tidak akan mungkin terjadi “disini”. Dalam hal bailout Century: “apa yang terjadi di 1997/1998” tidak akan terjadi saat saya bikin keputusan untuk mengatasi masalah tahun 2008 ini.

Itu sebabnya, Donalee bilang, orang sukses yang bikin “dumb mistakes” adalah “efficient people”. Mereka terlalu fokus pada “doing things right”, sampai tidak bisa “appreciate complex problem”. Complex problem membutuhkan pendekatan pikir yang berbeda dari “doing things right”. Soalnya, complex problem bisa tidak punya ending. Masalah bisa tidak nampak selama bertahun2 sebelum akhirnya muncul kembali dan lebih rumit. Terorisme adalah contoh complex problem.
Orang pinter dan sukses selalu berusaha memecahkan masalah. Selain itu, tuntutan masyarakat (orang biasa2 kayak saya) juga mengakibatkan si pinter ini untuk lebih fokus ke “doing things right”. Sejak jaman dulu, kata Donalee, pemimpin dituntut untuk mengetahui apa yang benar/baik, melakukannya dengan benar/baik, dan melindungi rakyatnya. Track record kesuksesan membuat mereka merasa harus punya solusi: Century harus diselamatkan; harus bisa kliring besok pagi; jangan sampai publik panik; jangan sampai ekonomi gonjang-ganjing; jangan sampai kurs anjlok; toh sudah ada Perpu JPSK, ada pasal “jaminan” pembuat keputusan tidak dituntut; kasus BLBI tidak akan terulang karena aturan main kali ini sudah jelas…. Sayangnya, itu semua bikin si pinter dan sukses ini lupa big picture: dampak politik, konsekuensi hukum (yang sebetulnya sudah diingatkan…), aturan2 sendiri yang ditabrak…
Effective people, sebaliknya, lebih fokus ke “the right thing to do” karena mereka selalu bisa mengumpulkan alternatif dan “refuse to take themselves too seriously”. Mereka tidak segan untuk bikin pertanyaan2 sulit untuk dirinya sendiri: “bagaimana kalau begini, bagaimana kalau kejadian begitu…” ; dan cari jawabnya. Kata Donalee, salah satu cara supaya tidak bikin “dumb mistake”, adalah dengan cara tidak mensortir dan mengabaikan informasi (kalau sesuatu yang tidak diharapkan terjadi).

Bagaimana “pengalaman sukses” malah bisa jadi bumerang kesuksesan masa yang akan datang dikonfirmasi oleh Sydney Finkelstein, Profesor dari Tuck Business School- Darthmouth College (websitenya http://www.whysmartexecutivesfail.com/). Sydney sudah lama bikin riset mengenai kesalahan yang dilakukan top CEO dan pemimpin organisasi2 di Amerika. Mungkin dia ini mempelajari “kelirumologi” bisnis Amerika….pokoknya yang salah2 dia teliti. Katanya, ada empat alasan kenapa orang pinter dan pemimpin bikin salah, yaitu: experience, self interest, attachment, dan pre judgment.
Experience atau pengalaman, konon disebut sebagai “guru terbaik”. Tapi kata Sydney, berdasarkan hasil penelitiannya, track record kesuksesan seseorang justru bisa menuntun orang ke arah yang salah. Dia kasi conto Dick Fuld, CEO Lehman Brothers (LB). Tahun 1998, ketika terjadi krisis Rusia, Long Term Capital Management (LTCM) nyaris bangkrut. Kesulitan keuangan LTCM berimbas ke LB. Apalagi ada rumor yang ditiupkan Goldman Sachs (saingan Lehman) bahwa LB punya banyak eksposur di LTCM. Dick Fuld waktu itu menyelamatkan LB dari krisis LTCM dengan cara mengunjungi investor utama LB satu per satu. Mereka diyakinkan bahwa investasi di LB aman. Dick Fuld juga datang ke kantor Goldman (yang dicurigai bikin rumor) dan bilang gini ke CEO Goldman John Thain: “When I find out who it is, I’m going to reach down his throat and tear out his heart”. Apa yang dilakukan Dick Fuld (terutama “ancamannya” ke John Thain) jadi semacam legenda di LB. Walaupun konon Dick Fuld tidak punya personality yang menyenangkan, orang2 LB termasuk board banyak berharap padanya.

Kira2 satu dekade kemudian, LB kena masalah lagi. Kali ini karena krisis subprime mortgage. Dick Fuld yang masih menjabat sebagai CEO, berpikir dengan cara yang sama dengan sepuluh tahun lalu: dia ingin tampil menyelamatkan LB. Yang jadi masalah, menurut Sydney, skala krisis subprime mortgage jauh lebih besar dari krisis Rusia yang jadi krisis LTCM/Wall Street 1998. Kondisi keuangan LB juga jelek sekali….Ketika seharusnya Dick Fuld berkonsentrasi menjual LB (=cari pembeli), dia malah berkonsentrasi cari cara menyelamatkan LB. Akhirnya waktu habis, regulator juga habis kesabaran, LB bangkrut.
Bukankah yang terjadi dengan Dick Fuld mirip dengan Boediono? Sepuluh tahun lalu, Boediono adalah direktur BI (sekarang jabatan itu disebut deputi gubernur). Dia mengalami bagaimana bank-bank ambruk satu-satu dan harus dibantu bank sentral. Bantuan yang diberikan dalam menjalankan fungsi lender of the last resort, ternyata jadi masalah besar. Ratusan trilyun tidak bisa kembali ke negara; pejabat BI masuk penjara rame2. Mungkin Boediono menarik persamaan antara dua kejadian yang terpisah sepuluh tahun itu (ini bias, yang disebut “superficial similarity”; konon, sering terjadi saat orang harus bikin keputusan under pressure). Akibatnya cara melihat situasi (ketika mulai dilapori anak buah di BI Century kalah kliring, sebaiknya diginikan-digitukan, jangan sampai bikin panik, dst) sama seperti lihat situasi 1997/1998. Padahal, krisis kali ini beda…

Self interest.Contoh yang diberikan adalah, bagaiman CEO perusahaan2 Amerika penerima bailout “menghamburkan” uang bailout untuk board retreat di resort terkenal di California, bayar bonus eksekutif dalam jumlah yang mencengangkan (sampai Obama harus kasi batas maksimal bonus yang boleh), bagaimana eksekutif Merrill Lynch menghabiskan uang untuk dekorasi ruangan pada saat kinerja keuangan Merrill merosot.
Saya tidak tahu, self interest apa yang mendasari Sri Mulyani dan Boediono sepakat menyelamatkan Century. Kalau ada self interest dalam bentuk uang, nama mereka atau keluarga mereka seharusnya sudah ada di daftar yang disebar aktivis Bendera tempo hari. Mungkin tidak ada self interest dalam bentuk “terima komisi bailout” (?). Seingat saya, diawal kasus Century ini jadi pembicaraan, ada gosip Boediono jadi wapres karena bailout Century. Versi gosip itu, ada nasabah bank Century yang jadi penyandang dana kampanye partai (sehingga bank harus diselamatkan). Ketika detail masalah di Century makin terbuka untuk publik, gosip itu malah jadi sayup-sayup bukannya makin terkonfirmasi. Mungkin sebenarnya tidak ada “self interest” dalam bentuk pengin jadi wapres (?). Atau mungkin self interest justru ada di kalangan BI sendiri (anak buah Boediono)?? Soal ini biar PPATK dan KPK yang bicara….

Emotional attachment. Lekat secara emosional bikin orang blunder. Contoh yang diberikan adalah bagaimana Jerry Yang CEO dan pendiri Yahoo! menolak tawaran akuisisi Microsoft USD 48 milyar pada tahun 2007. Penolakan Jerry Yang, mengakibatkan harga Yahoo! merosot; dalam waktu delapan bulan harga Yahoo! tinggal USD 18 milyar. Ini berarti kerugian besar bagi pemegang saham Yahoo!.

Masalah bailout Century diawali ketika Boediono menyampaikan berita Century kalah kliring ke Sri Mulyani. Mengapa bank kalah kliring saja sampai jadi urusan petinggi otoritas keuangan negara? Maksud saya, kok gitu besar perhatian BI terhadap bank yang kalah kliring ini? Setau saya, kalau bank kalah kliring dan sudah sama sekali tidak punya uang di brankasnya, ya dia musti datang ke bank sentral dengan segala harta yang ada, untuk dijadikan jaminan karena mau pinjam uang bank sentral. (“Krisis” biasanya jadi alasan; juga kondisi pasar uang; padahal dengan kondisi Century seperti itu, kesulitan keuangan sebenarnya cuma tinggal tunggu waktu). Saya tidak tahu seberapa besar emotional attachment Sri Mulyani dan Boediono terhadap Century. Memang ada rekening Departemen Keuangan di Century…tapi apa ini bikin Sri Mulyani punya perhatian khusus ke Century? Sri Mulyani tidak tahu mengenai Century. Sedangkan Boediono waktu itu baru sekitar setahun menjabat sebagai Gubernur BI… Setau saya, gubernur bank sentral tugasnya bukan memantau bank kalah kliring; jadi informasi ini pasti didapat dari bawahan Boediono (mungkin staf pelaksana?). Yang jelas, berita kalah kliring lalu diikuti dengan permintaan bantuan likuiditas dari manajemen bank Century; sampai akhirnya ada perubahan peraturan pemberian fasilitas bantuan likuiditas yang jadi lebih ringan…
Menurut saya, emotional attachment (dalam bentuk apapun) terhadap bank yang diawasi, seharusnya tidak boleh ada di jajaran pengawas bank. Ini akibatnya, kalau pengawas tidak bisa bersikap seperti enforcement officer; tapi bersikap seperti rehabilitation officer. Bank sakit dirawat pengawas; padahal bikin sehat bank sakit bukan tanggung jawab pengawas, tapi tanggung jawab manajer dan pemiliknya. (lihat tulisan http://grundelanbankcentury.blogspot.com/2009/10/bank-bermasalah-too-hot-to-handle.html).

Kalau pakai konsep Donalee, lekat secara emosional ini bikin orang jadi fokus ke “doing things right”, bukannya milih “the right thing to do”. Ketika upaya bikin sehat sudah berlangsung beberapa tahun, belum sehat juga malah kena kesulitan likuiditas; orang2 yang terlibat cenderung akan berpikir: “…sayang kalau dibiarkan; toh sudah kepalang bank ini hidup atau setengah hidup;…let’s throw another lifeboat”. Sekali ini bukan hanya lifeboat-lifesupport yang diberikan, tapi juga uang trilyunan….

Alasan keempat yang bisa bikin orang pinter keblinger adalah pre judgment. Sydney kasi conto penanganan otoritas Amerika saat badai Katrina 2005. Waktu topan Katrina hampir mendekati New Orleans, Department of Homeland and Security (yang bertanggungjawab kalau terjadi antara lain bencana alam) menggolongkan Katrina sebagai “topan atau badai biasa”. Typical hurricane. Akibatnya, tingkat persiapan yang dilakukan juga persiapan untuk tipe “topan biasa”. Bukan hanya itu. Ketika Katrina betul2 “mendarat” di New Orleans, dan informasi, data mengenai kondisi kota dan penduduk yang terus memburuk mulai muncul, pejabat2 di departemen itu melakukan “filtering” bawah sadar. Mereka lebih “tertarik” dengan informasi yang mengkonfirmasi asumsi2 mereka; secara tidak sadar, mereka mengeleminasi informasi2 yang bertentangan dengan anggapan bahwa “Katrina adalah badai biasa”. Sydney memberi contoh, bagaimana seorang pejabat departement memberikan kesaksian di depan Kongres, ketika Katrina menghantam New Orleans, dia melihat melalui CNN, penduduk New Orleans berpesta di kota. Nampaknya “aman2 saja”, kira2 begitu… Yang jadi masalah, pada saat yang sama, sebetulnya banyak laporan masuk ke department itu, bahwa kondisi di belahan kota yang lain sudah mengkhawatirkan. Bendungan yang mengelilingi dan melindungi New Orleans sudah mulai pecah (dan akhirnya bendungan itu memang pecah sehingga korban jiwa jadi banyak).

Banyak berita mengenai “panasnya” rapat konsultasi KSSK antara jajaran Departemen Keuangan dengan BI. Deputi Gubernur BI yang membidangi pengawasan bank sampai ada yang nangis. Waktu itu, konon, sudah ada pertimbangan bahwa perangkat hukum yang dibutuhkan untuk menyelamatkan Century tidak cukup. Komite Koordinasi (KK) belum ada undang-undangnya; padahal hanya KK ini yang bisa mengalihkan bank gagal ke LPS. Makanya surat likuidasi lalu disiapkan.
Pre judgment yang dilakukan Sri Mulyani (dan mungkin juga Boediono), assessment BI (anak buah Boediono yang betul2 pegang data Century) mengenai kebutuhan dana yang 600 milyar adalah benar. Tapi sebetulnya, pada saat itu juga ada informasi: BI sudah memberikan forbearance begitu lama kepada Century. Bank ini bank jelek. Saya tidak tahu apakah masalah surat berharga yang harusnya macet tapi diklasifikasikan lancar itu juga diungkap BI dirapat konsultasi KSSK. BI yang punya aturan mengenai likuidasi bank, ternyata tidak melaksanakan aturan yang dibikin sendiri. Dengan informasi semacam itu, seharusnya sudah ada kecurigaan: jangan2 angka yang 600 milyar ini sumir.
Tapi dimana “percaya” harus diletakkan pada saat harus ambil keputusan dalam kondisi “pressing time” seperti malam itu? Kalau Sri Mulyani tidak percaya sama angka 600 milyar, angkanya siapa yang mau diambil? Mau percaya sama siapa? Data semua ada di BI; yang pegang data (=”baby sitter” Century, yang lebih tau mengenai bank ini) bilang, 600 milyar. Siapa yang nyangka akan jadi 6.7 T?? (Menurut saya, kasus ini juga menunjukkan masalah kompetensi dan profesionalisme di jajaran pegawai BI). Dilematis, karena berusaha “doing things right”. Semisal berpikir dari “ujung” yang lain (fokus pada “the right things to do”), yang akan dilakukan malam itu mungkin konsultasi ke Presiden adinterim untuk bikin clear masalah hukum.

Bias akan mengurangi kualitas keputusan. Georgia Tech Research Institute di Amerika punya unit penelitian namanya ELSYS (Electronic System Laboratory). Unit ini mempelajari “electronic defense” dan “human system integration”. Hasil penelitiannya banyak dipakai militer Amerika, termasuk memperbaiki cara pengambilan keputusan pada saat banyak informasi yang harus dipertimbangkan, tapi sedikit waktu untuk bikin kesimpulan. Kata orang2 ELSYS, judgment error terjadi karena bias dalam pengambilan keputusan. Ada tujuh bias yang dikenal bisa mempengaruhi kualitas keputusan dalam kondisi under pressure (absence of evidence, availability, oversensitivity to consistency, persistence of discredited information, randomness, sample size, vividness). Setelah dilakukan eksperimen (subyek harus bikin keputusan cepat berdasarkan banyak email yang diterima) ada empat yang teridentifikasi : vividness, oversensitivity to consistency, superficial similarity dan sensasionalist appeals (dua yang terakhir ini temuan baru).

Seperti yang saya bilang di bagian awal tulisan ini, bikin keputusan saat ketidakpastian begitu tinggi mirip dengan militer yang harus bikin keputusan strategi perang. Data atau informasi terus2an masuk (kalah kliring, kurs rupiah tidak stabil, cadangan devisa berkurang cepat, negara tetangga bikin blanket guarantee, dst) tapi tidak semua bermanfaat… Kalau tau ada potensi bias, laen kali bisa dihindari…
Bias “vividness” itu begini: karena BI adalah pengawas bank Century, assessment yang diterima dari BI dianggap lebih berbobot dari pertimbangan pihak lain (jajaran pejabat teras Departemen Keuangan). First hand information dihargai lebih walaupun second hand information mungkin lebih bermutu (misalnya informasi dari Bapepam mengenai kinerja atau kontribusi Century di pasar modal). Bias “oversensitivity to consistency” terjadi ketika informasi yang berulang2 diterima (misal berita nasabah panik) meskipun data/informasi/assessment datang dari sumber yang sama.
Bias “superficial similarity”, contohnya begini: subyek eksperimen di Georgia Tech terima message mengenai “penyanderaan atau sandera”. Tidak berapa lama, muncul message lagi dengan heading “sandera”. Message yang kedua ini cenderung mendapat perhatian dibandingkan yang lain, walaupun isinya tidak ada hubungan dengan heading/title message. Dalam kaitannya dengan bank Century, kata “krisis ekonomi”, “gejolak kurs” mungkin sudah membuat Sri Mulyani dan Boediono terjebak bias “superficial similarity”. Tanpa disadari, mereka menarik dan mencari persamaan2 antara “krisis” 2008 dengan krisis 1997/1998. Apalagi ada ketakutan2 yang dikemukakan BI seperti “rush nasabah”, 20an bank akan ikut kolaps kalau Century ditutup, dst…Informasi yang memuat berita negatif, dalam eksperimen di Georgia Tech, ternyata lebih berpengaruh walaupun informasi itu tidak berdasar. Ini yang disebut bias “sensasionalist appeal”.

Jadi….?? Orang pinter dan sukses do make mistakes. Mereka bukan dewa. Dongengan saya mengenai “cognitive science”, kerja otak, dlsb bukan ajakan untuk memaklumi “kesalahan yang terjadi” (=ooo… ya udahlah toh cara kerja otak begitu dari sononya…). Kalau memang ada kesalahan, ya salah. Masak lalu jadi benar karena “limbic system Sri Mulyani dan Boediono terblokir”…’kan tidak begitu. Sebaliknya, mereka yang tidak suka dengan kedua orang itu (dan menuduh2 tanpa bisa memberikan bukti yang bisa dilaporkan ke penegak hukum), juga harus menyadari, limbic system di otak mereka yang nuduh itu, mungkin juga tertutup oleh “sesuatu”. Dengan kata lain, sebelum tarik kesimpulan tergesa2 (entah untuk membela atau menghujat), pikir dulu. Dengan memahami proses pengambilan keputusan di otak dan ilmu “bikin keputusan”, kita bisa ngatain mereka berdua salah karena “buru2 bailout Century”, tapi jangan sampai kita juga bikin salah seperti mereka dengan buru2 nuduh “maling” atau lantang membela “pokoknya bailout sudah tepat!”.

Intinya: semua ada ilmunya; teori ada, referensi banyak. Kalau lihat pake ilmu, mikir dikit, bias bisa dihindari. Bailout Century dan segala macam kejadian sebelumnya (regulatory fobearance yang diberikan BI, misalnya), bisa dilihat dan dijelaskan secara ilmiah. Bahkan apa yang terjadi di dalam BI (sampai outputnya seperti ini), asal informasi dibuka ke publik, bisa dijelaskan pake terori manajemen, organizational behavior, strategic management, dan sebangsanya. Misalnya gini: kata Sydney Finkelstein (yang mempelajari governance pada board of director selama 15-20 tahun), beda antara board of director yang bagus dengan board yang lemah ada pada “real debate”. Kalau komunikasi antar anggota board tidak lugas, tidak jujur, tidak terus terang…ya nggak heran kalau terjadi kesalahan dalam pengambilan keputusan. Silahkan dikira2 bagaimana komunikasi antar anggota dewan gubernur di BI dalam kaitannya dengan bailout Century. Apakah ada “real debate” baik ketika Century akan dibawa ke forum KSSK sampai akhirnya diputuskan untuk dikasi label sistemik?? (Bagaimana sih gaya leadership Boediono selama di BI?).

Kalau bias sudah bisa dihindari, orang bisa lebih jernih menakar kesalahan yang terjadi mengenai keputusan bailout. Tapi jangan sampai kehilangan “big picture”…Ekonomi Indonesia bisa terhindar dari krisis, menurut saya, karena tidak ada error di kebijakan makro. Itu hasil kerja menteri2 ekonomi yang anggotanya antara lain dua orang yang sekarang lagi “ditabokin” kiri kanan. Kalau sampai hilang big picture, kita jadi “si sukses dan pinter yang sukses nuduh dan pinter nuduh” atau “si sukses dan si pinter yang sukses bela2in secara fanatik”. Kesalahan dipelajari (kalau perlu dari berbagai sisi disiplin ilmu), supaya jangan sampai bikin salah lagi. Kalau ada kesalahan yang bawa konsekuensi hukum, ya musti ditanggung….

Sri (nyari jamu anti bias)

http://www.designsforstrongminds.com/articles/articles-why-smart-people-do-dumb-things.html
http://home.ubalt.edu/ntsbarsh/opre640/partXIII.htm
http://www.gtri.gatech.edu/casestudy/rapid-fire-reasoning
http://library.thinkquest.org/C0123421/thinking.htm
http://www.enotes.com/drugs-alcohol-encyclopedia/limbic-system

http://parentingteens.suite101.com/article.cfm/the_adolescent_brain_and_decision_making_skills

http://www.newsweek.com/id/164493

http://nymag.com/news/business/52603/index4.html
http://online.wsj.com/article/SB123438338010974235.html

http://www.cio.com.au/article/166573/why_smart_people_make_dumb_mistakes?fp=&fpid=&pf=1

5 Comments »

  1. Hi Bu Sri..(Apa Bapak Ya?)
    saya sangat setuju dengan tulisan sampeyan, tapi tidak semuanya.
    Saya termasuk orang yang masih percaya bahwa saat itu krisis sangat mengancam, kebetulan saya bekerja di financial market industry.
    “Saat ini adalah jaman ‘ekspektasi’, maksudnya keadaan suatu ekonomi sesuai dengan ekpektasi pelaku ekonomi. apakah anda sudah memasukkan unsur tersebut??
    Di U.S negara dengan ekonomi terbesar, apakah ada yang salah di peraturannya, sehingga masih bisa terkena krisis?padahal awal mula krisis di U.S cuma berasal dari keserakahan beberapa fund manager yang menginvestasikan dana di subprime!
    bagaimana dengan Indonesia, apakah anda seyakin itu krisis tidak akan berdampak/terjadi di Indonesia?apakah anda yakin semua bank sudah bagus??? Suwun.

    Comment by youdha — February 15, 2010 @ 3:59 am | Reply

    • Pertama2 terimakasih atas comment-nya; really appreciate that. Yang kedua, maap2 sekali baru di-reply sekarang, karena saya lagi nanggung selesaiin postingan terakhir. Mindahin dari blogger ke wordpress itu pain at my butt walau teorinya tinggal klik “import”.
      Sekarang mengenai komentar sampeyan…saya cuma bisa jawab yang saya tau, ya (selagi ketik ini) ^_^ . Jadi kalau ditanya “apa ada yang salah dengan peraturan Amerika terkait subprime mortgage”, saya trus terang tidak tau. Saya nggak ngikuti peraturan subprime mereka sebelum dan sesudah krisis. Tapi pertanyaan itu saya letakkan di konteks indonesia dan seputar pengambilan keputusan bailout.
      Ini cerita dikit “latar belakang” tulisan2 di blog ini. Awal2nya karena saya pengen tau aja; penasaran dengan statement pejabat2 dan ekonom2 yang ngomentarin keputusan bailout (berita2 sekitar Agustus 2009). Yang sering saya baca gini: kalau dilikuidasi waktu itu, Indonesia akan ngalami kayak krisis 1997/1998. Biasanya, yg disebut: kurs rupiah, potensi orang pindahin dana ke luar negeri, bank2 pada ambruk, devisa. Itu sebabnya, setelah dapat angka2 iseng saya gambar dan saya bandingin. Ternyata antara 1997/1998 dan 2008 nggak sama.

      Saya tidak mengatakan tahun 2008 situasinya “aman-tentram-damai”; yang coba saya kemukakan, kondisi di Indonesia waktu itu, tidak benar kalau disamakan dengan kondisi saat krisis 1997/1998. Saya tidak bikin counterfactual analysis-nya. Mustinya yang bikin ya pejabat2 BI dan deptkeu.
      Ada studi IMF 1997/1998 (ditulis Charles Enoch dkk judulnya “anatomy of a banking crisis”), waktu itu di Indonesia, kata mereka, dalam kondisi suku bunga sky rocketting, ada 24 bank (bank2 pemerintah, bank swasta asing dan swasta besar) kebanjiran likuiditas dan tetap bisa saling pinjam – antar mereka sendiri. yang kelabakan dan susah adalah bank2 menengah dan kecil. Mengapa ada pengelompokan di pasar uang? karena bank2 bagaimanapun saling kenal, dan sudah saling menilai kekuatan masing2 (ini temuan studi interbank market; coba ke http://www.ssrn.com lalu ketik “interbank”).
      Saya perkirakan, perilaku yang mirip juga terjadi di pasar uang Indonesia 2008 (pasar uang tersekat-sekat). Sayang, saya gak punya data individual bank/kelompok bank. Waktu itu, pasti ada yang likuiditas melimpah dan tetap bisa lending-borrowing, ada yang kekeringan (seingat saya sempat ada ide bikin pooling fund segala…) apalagi, suku bunga sebenarnya tidak melonjak sedrastis 10 th lalu.

      Betul yang sampeyan bilang: kalau pasar punya ekspektasi negatif, itu bisa kejadian bener. Kalo dibikin model mungkin gini: satu bank dilikuidasi; nasabah bank kecil tarik dana; beberapa bank kecil makin kesulitan likuiditas; rumor; makin banyak bank2 kecil di rush nasabah; mereka sulit pinjam uang; kurs rupiah makin tertekan; rumor; bank2 medium size mulai dirush nasabah; bank2 kecil mulai dialihkan ke LPS; rumor; kurs makin anjlok; devisa menipis utk pertahankan rupiah; bank2 medium mulai minta pinjaman darurat BI…dst… Intinya, situasi jadi spiralling down out of control.

      Saya bukannya tidak percaya yg semacam itu bisa terjadi; tapi kalao dikembalikan ke situasi 2008, saya tidak yakin “model” semacam itu bisa jadi kenyataan. Kenapa? Karena yang dilikuidasi adalah (1) bank jelek dan kecil (2) otoritas keuangan sebetulnya masih punya ruang untuk bikin manuver. Tapi manuver yang tepat hanya bisa dibikin (atau terpikirkan) kalau data2 di BI akurat dan bisa tersedia dengan cepat. Sekarang kan ketahuan, data2 tidak bisa disediakan dengan cepat dan tepat (Raden Pardede bilang data bi tidak konsisten: 600m atau 6T??; data jmlh simpanan dibawah 2 milyar antara bi dan bpk ternyata tidak sama, selisih 1T; itu discrepancies yang terekspos ke publik….yang tidak….). Itu sebabnya di postingan saya yg lalu, saya kasi artikel situasi di Hong Kong dan Filipina. Maksud saya (karena saya gak bikin counterfactual analysis) utk bandingin…di dua negara itu ada rush, ada bank ditutup, tapi ekonomi mereka baik2 saja…tidak jatuh ke situasi 10 th lalu (Hong Kong 10 th lalu juga kelabakan defend dolar mereka)…
      Alasan yang lain, saya percaya, peer bank sbetulnya tau Century itu bank macam apa. Pasar itu nggak buta dan tuli (walaupun bisa saja dibutakan oleh rumor). Kalau toh bank ini dilikuidasi, itu sebetulnya sudah dalam radar/perkiraan peer bank. Yang musti dijaga sama otoritas keuangan waktu itu adalah jangan sampai ada “profiling”…peer bank lalu “cari2” bank lain yang punya profil mirip Century, terus dibanting…ini bisa nular ke deposan retail, dan memicu penarikan yang tidak perlu.

      Sayangnya, otoritas keuangan (dlm hal ini BI) prefer sikap hands off. Gak berani bikin manuver mungkin karena tidak yakin sama data2 mereka sendiri (mereka nyebut sikap mereka sbg “konservatif” ;jangan ada likuidasi).
      Lebih menarik lagi kalao lihat di transkrip rapat2 BI (asumsi transkrip itu benar), kelihatan bahwa yang diperdebatkan sebetulnya bukan “bailout Century dan alternatifnya”. Tapi “bailout dan konsekuensinya” (skali lagi, dg asumsi transkrip itu benar). Nampaknya dari awal, sudah “tergiring” ke ide bailout. Mungkin karena deputi gubernur (Siti Fajriah) pake nangis2 segala mengusulkan bailout, mengusulkan perubahan pbi tapi ditentang direktur2 (anak buahnya)… Saya nebak nih, waktu itu ada “group thinking” dalam proses pengambilan keputusan kasi pinjaman darurat sampai bailout (ke LPS). Group thinking bukan karena orang ybs badannya gede, pangkat tinggi, paling senior dan suara paling kenceng (sehingga orang2 sungkan dan bilang “iyaaa deh”). Tapi justru karena ada yang “merengek2”; nangis karena bersihnya diragukan; nangis karena permintaannya (sebagai atasan) diabaikan anak buahnya, dst. Saya ndak mengatakan Fajriah itu korup. Yg saya katakan, sikapnya, secara tidak disadari, mengarahkan suasana rapat (pengambilan kptsan) jadi “emosional”: mau mendebat ybs pada nggak enak barangkali…nanti dibilang meragukan “kredibilitas dan integritas”….akhirnya anggota DG yang lain “sepakat” mendukung Fajriah. Kombinasi sikap spt itu dan kondisi data BI, membuat “manuver2” yang masih mungkin jadi “out of sight”. Menurut saya gitu…
      Regards,

      Comment by srikripik — February 15, 2010 @ 11:40 pm | Reply

  2. Setuju Ibu/Bapak…
    memang inilah yang dinamakan proses, bagaimana pengalaman-pengalaman dalam mengatasi suatu masalah dan penentuan kebijakan dapat dijadikan pelajaran berharga di kemuadian hari.
    Saya tidak bilang kebijakan bail out 100% benar, tapi juga tidak menentangnya, yang saya tahu, keputusan ‘harus’ cepat, dengan data yang ‘sangat’ terbatas tetapi kebijakan harus diambil antara membail out atau tidak, dan yang saya lihat sampai saat ini “tidak ada niatan dari pengambil kebijakana untuk merugikan negara”..
    Terima kasih Ibu/Bapak atas tulisan di blog ini, teruslah menulis berdasarkan data dan dasar referensi ilmu [tidak seperti para politik*s di luar sana :-)]
    salam hangat…

    Comment by youdha — February 16, 2010 @ 1:00 am | Reply

    • Trimakasih lagi ya. Saya si bukan masuk anggota FBS (Fans Berat Sri mulyani) atau FBB (Fans Berat Boediono).
      i just feel sorry for them… right person in the wrong time and wrong place (trutama Boediono…coba kalo tempo hari tetap jadi Menko Ekuin… gak bengep dia). Saya pikir yang musti dipilin kupingnya sampe kayak untir2 itu ya anak buahnya Boediono di BI…gimana kok bisa sampe kayak gitu. Sekarang kan malah dibikin pontang-panting sama politicians…padahal mustinya yang pegang “kendali” dan nguliahi kan ya mereka yg di BI…data bank apa aja kan ada disana…
      Saya ndak maksud meremehkan, tapi punya anak buah spt itu, dengan kinerja spt itu, lalu musti bikin keputusan gawat, orang dengan kualitas kayak apapun pasti sekarang jadi pecundang. Suruh pemenang nobel ekonomi mimpin BI, bikin keptusan kayak th 2008, sekarang ini si nobel laurette itu pasti jadi seperti idiot. Suruh orang alim macam Bunda Teresa atau Dalai Lama…sekarang ini mereka juga disorakin “maling lu”…
      Kacian ya… ^_^
      regards

      Comment by srikripik — February 16, 2010 @ 2:33 am | Reply

  3. o, iya kata salah satu politikus (tapi saya setuju)
    “Kami ada data [yang sama] tape penafsiran atas data-data tersebut berbeda antara satu orang dengan orang yang lain”
    sama seperti kita, benar tahun 2008 terjadi sesuatu, benar ada krisis tetapi kita masih berbeda pendapat apakah itu krisis besar atau kecil.
    Kalau tidak salah di negara-negara maju untuk melihat kapan mulai dan berhentinya krisis butuh waktu 6 bulan (1 semester) setelahnya, itupun dengan indikator-indikator yang berbeda-beda tiap negara.

    Comment by youdha — February 16, 2010 @ 1:05 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: