Blognya si Sri

January 17, 2010

Leading indicators krisis (dan “krisis”) dalam gambar

http://benbyerly.files.wordpress.com/2008/10/financial-crisis-cartoon-27102008.jpg

Banyak yang bilang 2008 itu krisis sehingga Century perlu dibailout.  Amerika Serikat memang krisis…kalau Indonesia…seberapa “krisis”?? Ada yang nunjuk kurs rupiah, indeks saham JSX, rating Indonesia yang anjlok, dst… Tapi boleh juga kan kalau ada yang bilang “semester dua 2008 itu Indonesia tidak krisis karena kondisi perbankan lebih baik dari sepuluh tahun lalu; tidak krisis karena suku bunga masih within acceptable range; tidak krisis karena orang tidak borong dan numpuk sembako….” Jadi apa sebetulnya krisis ekonomi itu? Maksud saya, dari sisi teori, apa tidak ada yang bisa dijadikan patokan “kalau kayak gini kondisinya, dik, mbak, aa’, teteh, mama, papa, simbok, tante, om, pakde, bude, kita itu lagi KRISIS”. Kata orang2 pinter yang suka ndongeng ekonomi, ada yang disebut “leading indicators crisis”…kali ini mari diintip sama2 gimana leading indicators crisis Indonesia sekitar 2008…. 

Krisis ekonomi, terutama yang spektakuler, sudah banyak ditulis orang. Dongengan mengenai banking crises, currency crises (ada yang menyebut “balance of payment crises), systemic crises, financial crises, twin crises, dst dst tidak kurang. Mau yang bentuknya kayak apa…model ekonomi? kualitatif macam literature review(tanpa hitungan)? mau yang ada ekonometrinya? prediksi? yang isinya bahas sistem deteksi dini juga ada. Mau dongeng mengenai kisah krisis di satu negara tertentu? hikayat krisis di negara2 berkembang? cerita krisis di negara berkembang dan negara maju? Pokoknya nggak kurang.

Cerita2 mengenai krisis biasanya dibagi jadi dua topik banking crisis dan currency crisis. Konon, keduanya bisa muncul bersama-sama, bisa juga sendiri2. Kata orang yang banyak ndongeng mengenai krisis ekonomi, currency crisis bisa terjadi tanpa banking crisis. Tapi banking crisis biasanya akan diikuti oleh currency crisis (namanya jadi twin crises). Itu sebabnya, banyak yang bilang banking crisis dampaknya lebih parah, dan recovery yang dibutuhkan lebih lama. Kalau tau “banking crisis is underway”, katanya bisa jadi sinyal “currency crisis juga akan muncul”. Mungkin akan ada yang wondering, lho bukan sepuluh tahun lalu yang terjadi di Indonesia itu krisis nilai tukar dulu, baru krisis perbankan (=banyak bank ditutup, bank run, dst)? dan bukan sebaliknya? Untuk Indonesia, krisis sepuluh tahun lalu memang nampaknya dimulai dari nilai tukar (pertengahan 1997). Tapi sebetulnya krisis perbankan sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Bank (tertama bank pesero) banyak punya kredit macet; banyak bank yang seharusnya sudah ditutup tapi dibiarkan beroperasi; connected lending/pinjaman ke pihak terkait terjadi dimana-mana; pinjaman luar negeri tidak termonitor dengan baik. Penutupan 16 bank November 1997 (atas perintah IMF) ibaratnya mengubur mayat yang sudah bertahun2 “dibiarkan” terkatung-katung. Krisis nilai tukar, meng-ekspos kelemahan perbankan Indonesia. Karena perbankan adalah urat nadi ekonomi Indonesia (ekonomi negara berkembang biasanya memang bertumpu pada perbankan), kelemahan2 itu berdampak sangat serius (=memperburuk keadaan). Jadilah Indonesia mengalami “twin crises”.

Karena krisis bisa terjadi tanpa ada huru hara ekonomi (kayaknya situasi baik2 tapi sebetulnya banyak yang sudah ditutup2i), dongeng mengenai krisis ekonomi tidak dapat secara tepat mendefinisikan kapan krisis dimulai. Bahkan untuk negara yang sama, beda pendongeng, beda penentuan timing krisis. Biasanya, tiap pendongeng bikin kriteria mengenai krisis dengan dasar cerita2 (=penelitian2) sebelumnya. Misalnya ada yang mendefinisikan krisis kalau rasio non-performing assets to total assets lebih dari 10%. (Kalau berminat baca literature review mengenai kriteria “krisis”, bisa follow up dokumen Bank of England di daftar referensi.)

Kali ini saya akan pamer gambar2 “leading indicator” krisis. Leading indicator, seperti namanya, adalah komponen2 yang bisa dijadikan sinyal beberapa bulan atau beberapa tahun sebelum krisis terjadi. Jadi semacam “early warning system” gitulah. Karena currency crisis bisa datang bersamaan dengan banking crisis, leading indicator keduanya bisa sama (overlap). Setau saya, komponen atau indikator yang biasa dan bisa dijadikan sinyal krisis banyak sekali. Mulai dari export, cadangan devisa, suku bunga kredit, suku bunga deposito, dst. Biasanya satu set indikator dipilih, setelah itu diuji apakah bisa kasi sinyal waktu negara hampir mendekati krisis. Yang diobservasi biasanya tiga hal: indikator mana yang paling bagus, seberapa bagus sinyal yang diberikan, dan sejak kapan indikator ini sudah kasi warning.

Contohnya gini. Dari bacaan2 dan kisah2 krisis ekonomi misalnya ada 20an indikator yang biasa dipakai. Semuanya lalu diuji, hitung mundur dari masa krisis (biasanya 24 bulan mundur, bisa juga lebih jauh lagi). Pendongeng biasanya ingin menemukan, indikator mana yang sudah mulai menunjukkan tanda bahaya jauh2 hari dan konsisten; indikator mana yang mustinya “bunyi” tapi diam saja, dst. Lalu semua indikator tadi dihitung “noise to signal ratio” nya. Semakin tinggi noise to signal ratio, semakin jelek; artinya indikator ini lebih banyak kasi “false alarm”. Tidak ada apa2 kasi warning “ada krisis”. Atau sebaliknya indikator diam saya, tidak kasi warning apapun, padahal beberapa bulan kemudian kejadian krisis. Komponen “import” misalnya, ditemukan punya noise to signal ratio yang tinggi, lebih dari 1. “Real exchange rate”, sebaliknya, punya noise to signal ratio yang rendah (sekitar 0.5). Sehingga, misalnya policy maker Indonesia mau tau antara kurun waktu 2004–2008 negara ini “heading to crisis” apa tidak, ya kira2 jangan pilih komponen impor; pilih indikator yang lain.

Setelah diseleksi berdasar noise to signal ratio, biasanya ditentukan threshold rasio yang mau diambil. Setelah itu baru indikator2 terpilih diuji untuk menengarai apakah kondisi makro ada “di jalan yang benar” atau ada yang harus dikoreksi. Apa perlunya “dikoreksi”? Karena kondisi makro yang “tidak seharusnya” bisa dijadikan sasaran spekulan. Contohnya, ekspansi kredit yang berlebihan atau pinjaman luar negeri jangka pendek yang terakumulasi terlalu cepat sudah bisa jadi sinyal bagi spekulan/trader valas macam George Soros, ekonomi dalam kondisi “vulnerable” (rapuh). Tinggal tunggu waktu saja sebelum mata uang negara itu “dibanting”. (Ada yang bilang, krisis nilai tukar 1997–1998 sebenarnya lebih banyak disebabkan uncertainty economic fundamental. Orang sudah ragu sama fundamental ekonomi negara2 Asia. Makanya nilai tukar terdepresiasi banyak sekali). Meskipun indikator terpilih bisa ditentukan, pendongeng2 krisis biasanya kasi “disclaimer”: jangan terlalu fanatik dengan indikator tertentu. Krisis biasanya unik dan tidak bisa dipukul rata; kondisi ekonomi juga dinamis dipengaruhi banyak hal di dalam dan luar negeri; indikator yang tidak pernah masuk hitungan bisa jadi malah berperan sekali dimasa depan.

Gambar2 yang akan saya pamerin bukan dari hasil seleksi indikator khusus Indonesia. Saya tidak bikin penelitian mengenai krisis; ini cuma iseng2 karena saya lagi seneng2nya bikin grafik pake excel (serasa kayak ekonom beneran!!). Leading indicators krisis saya pilih langsung dari indikator2 yang disebut di dongengan krisis Eropa Timur (oleh Bruggemann and Linne) dan dari Asia Tenggara (oleh Athukorala dan Warr). Saya juga milih berdasarkan kepraktisan dalam cari data. Real exchange rate saya pilih karena data bisa langsung diambil dari website BIS. Tinggal ditarik pake excel, grafiknya dah jadi! Rasio lending to deposit interest rate tidak saya pilih (walau noise to signal rationya rendah) karena saya tidak punya data yang lengkap (cuma punya data deposit). Kalau toh ada musti key-in dari printout. Itupun hanya data Indonesia..data negara lain saya tidak punya. Saya ambil sebagian besar data dari website ADB (Key Indicators Statistics 2009), karena sudah dalam bentuk excel (tinggal tarik aja). Data dari ADB, data tahunan; idealnya data untuk studi indicator crisis adalah data bulanan. Semakin tinggi frekuensi data semakin bagus, sehingga bisa betul2 ditemukan kapan sinyal tanda krisis itu kasi warning. Selain Indonesia, saya juga ambil data untuk Filipina, Korea, dan Thailand. Tujuannya supaya bisa sama2 dilihat, negara mana yang “heading to crisis” tahun 2008. Jadi sekali lagi, ini cuma buat lucu2an…let’s having fun with data and graphs ya… (jangan terlalu serius, apalagi sampe nangis2 segala…)

Leading indicators yang saya pilih ada lima:

  1. Perbandingan M2 dan cadangan devisa: M2 (tidak ada hubungannya dengan U2 yang grup musik-nya si Bono itu) adalah money supply yang terdiri dari koin, uang kertas dan simpanan di bank. M2 dibandingkan dengan cadangan devisa untuk menunjukkan seberapa banyak uang yang dikonversi penduduk setempat ke dalam dolar. Semakin besar rasionya, semakin gawat (heading to crisis) karena berarti masyarakat kehilangan kepercayaan sama mata uang sendiri; atau kebutuhan dolar jadi banyak.
  2. Perbandingan cadangan devisa dan pinjaman jangka pendek dalam mata uang asing. Semakin kecil rasio semakin rentan krisis.
  3. Perbandingan kredit pada pihak swasta (claims on private sector) dan GDP: semakin besar rasio berarti semakin ekspansif dan berpotensi krisis (apalagi kalau kredit bukan untuk sektor yang produktif atau berorientasi ekspor).
  4. Real effective exchange rate: rata2 tertimbang nilai tukar bilateral yang sudah disesuaikan dengan harga konsumen/inflasi (Pada data BIS, tahun dasar adalah 2005).  Peningkatan real effective exchange rate menandakan depresiasi riil mata uang suatu negara.
  5. Perbandingan defisit/surplus current account dan GDP. Saya mau ngomong agak banyak soal yang ini; terutama soal datanya. Current account itu bagian dari Balance of Payment. Teorinya, BOP= Current Account + Capital Account. BOP kayak anggaran keuangan pribadi orang. Kalau defisit ya artinya banyak uang keluar. Yang termasuk Current Account misalnya visible trade (expor, impor), invisible trade (advertising, banking service), transfer. Capital Account menunjukkan aliran modal asing baik jangka panjang maupun pendek. Nah, data di ADB yang konsisten tersedia cuma Current Account dan BOP. Data capital account untuk Thailand misalnya, kosong dari 1990–2008; mungkin karena ada beda definisi. Saya pakai rasio current account to GDP: kalau negara punya tren negatif (defisit besar), itu sudah jadi warning akan ada economic trouble. Tapi memperhatikan capital account juga menarik: seberapa banyak dana asing masuk dan keluar pra dan pasca krisis? Makanya saya kasi gambar juga mengenai rasio capital account to GDP.

Kecuali rasio nomor 2, di papernya Bruggermann dan Linne, semua rasio yang saya pilih punya noise to signal ratio yang rendah antara 0.13 sampai 0.53. Artinya, ketika indikator2 diujikan di Eropa Timur, indikator tersebut cukup baik kasi sinyal krisis. Indikator nomor 2 (perbandingan cadangan devisa dan pinjaman jangka pendek) saya contek dari Athukoralla dan Warr yang kebetulan tidak menyebut noise to signal ratio. Gambar leading indicator crisis untuk Indonesia, Korea, Filipina dan Thailand saya jadikan satu supaya posisi Indonesia bisa dibandingkan dengan negara tetangga. Malaysia saya keluarkan, bukan karena sentimen tidak mau ngaku Malaysia sebagai tetangga, tapi karena angka2 Malaysia terlalu tinggi; kalau disatukan akan mengganggu grafik (datanya sih ada). Gambar2nya seperti ini …

Perbandingan M2 dan cadangan devisa: Leading indicator ini seharusnya menunjukkan tren positif (dari kiri bawah ke kanan atas); tanda ada potensi krisis. Untuk Indonesia, indikator ini nampaknya cukup bagus karena sudah kasi warning secara konsisten sejak 1994. Untuk Korea, dua tahun sebelum krisis 1997/1998 indikator sudah kasi sinyal. Tapi untuk dua negara yang lain, indikator ini sepertinya tidak terlalu baik kasi sinyal krisis. Pasca krisis Asia Tenggara, tiga negara relatif berhasil mengendalikan indikator ini, kecuali Korea. Indikator ini, untuk Korea, mulai meningkat sejak 2004, tidak terlihat turun sampai 2008. (Korea, menurut saya, punya banyak alasan untuk risau waktu kena imbas krisis keuangan dari Amerika tempo hari. Baca saja terus…).

Sekedar catatan, rasio M2 dan cadangan devisa bisa juga dibalik, cadangan devisa dibagi M2. Intinya rasio tersebut menggambarkan “ketahanan cadangan devisa” suatu negara kalau terjadi apa2. Rasio cadangan devisa-pinjaman jangka pendek (seperti yang saya gambar di bawah) juga menilai hal yang sama. Menurut studi ADB yang diterbitkan 2009, negara2 Asia bisa lolos dari krisis global barusan karena mengakumulasi international reserves. Kata orang2 pinter angka ideal cadangan devisa 20% GDP. (Tahun 2008 GDP Indonesia USD 511 milyar, cadangan devisa 52 milyar)

Perbandingan cadangan devisa dan pinjaman jangka pendek: Untuk pinjaman jangka pendek, data yang tersedia di ADB cuma sampai 2007; yang 2008 tidak lengkap. Sebelum krisis, mustinya leading indicator ini menunjukkan tren negatif (dari kiri atas ke kanan bawah). Seperti yang sudah saya kemukakan, makin kecil rasio makin rawan krisis. Indikator ini tidak terlalu bagus untuk Filipina; baru kasi warning setahun (mungkin beberapa bulan) sebelum krisis 1997/1998. Tapi untuk Korea, Thailand dan Indonesia, indikator ini sudah kasi warning sejak 1993–1994. Pasca krisis sekali lagi hanya Korea yang kembali menunjukkan tren negatif sejak tahun 2005 (titik pink besar).

Perbandingan kredit pihak swasta dan GDP: sebelum krisis biasanya tren indikator ini positif; rasio makin besar, artinya ekspansi kredit tinggi. Data untuk Filipina tahun 2008 tidak lengkap, jadi tercatat 0 (grafiknya anjlok drastis karena data tidak ada). Seperti nampak pada gambar, keempat negara melakukan ekspansi kredit besar2an beberapa tahun sebelum 1997 terutama Korea dan Thailand. Pasca krisis indikator ini tren-nya turun. Indikator untuk Thailand agak mengkhawatirkan tahun 2001/2002 tapi nampaknya bisa dikendalikan (=jadi landai). Untuk Korea, tahun 2004–2008 tren indikator ini naik lagi. Sinyal bahwa di Korea crisis was underway?

 

 
Real effective exchange rate: dua tahun sebelum krisis 1997 indikator ini sudah menunjukan tren positif untuk Indonesia, Thailand dan Filipina. Jadi, nampaknya memang terjadi depresiasi riil mata uang tiga negara. Tapi nampaknya sepuluh tahun lalu, indikator ini tidak terlalu bagus untuk memberikan sinyal krisis Korea. Indikator ini, untuk Korea, justru baru konsisten kasi warning pasca krisis, setelah 2001. Filipina (garis kuning) nampaknya juga harus hati2 karena indikator ini sudah positif sejak 2005.
 
 

 

 

Perbandingan surplus/defisit current account terhadap GDP:  Kondisi defisit current acount sebetulnya bikin lembaga2 internasional heran dengan parahnya krisis Asia Tenggara. Dari sekian negara yang kena krisis waktu itu, hanya Thailand yang defisit  besar sampai 8% (lihat titik coklat di gambar). Itu sebabnya, banyak yang bilang, krisis “menular” dari Thailand ke Indonesia dan negara2 tetangga karena “sentimen negatif” investor. Mereka bikin profiling: Thailand karakteristiknya begini, Indonesia kayaknya sama, makanya rupiah diserang, ternyata (memang) tidak bisa bertahan;kelemahan2 yang ada ter-ekspos. Pasca krisis, Indonesia, Thailand dan Korea surplus (konon ini refleksi “ongkos clean up” crisis); tapi Filipina masih negatif. Tahun 2005 Thailand kembali negatif. Dua atau tiga tahun menjelang “krisis 2008” empat negara punya surplus current account tapi trennya turun (=surplus makin kecil).

Kalau BOP=current account + capital account, dua angka sudah diketahui, cari angka yang satunya lagi mudah.  Gambar berikut ini estimasi rasio capital account-GDP. Idealnya angka capital account juga langsung bisa diambil datanya. Tapi seperti yang sudah saya bilang, di database ADB, angka capital account ada yang kosong. Rasio capital account, menurut saya, lebih menarik dibandingkan karena antara krisis 1997–1998 dengan “krisis” 2008 lebih nampak bedanya. Gambarnya seperti ini:

 

 

 Coba lihat di bagian kiri gambar…rasio capital account empat negara menunjukkan tren positif sejak 1994–1995. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan tren dana asing yang meningkat. Apalagi kalau itu investasi jangka panjang/PMA. Jadi masalah kalau ternyata yang masuk adalah dana jangka pendek. Pada gambar di atas, arus keluar dana asing terjadi tahun 1997. Indonesia dan Thailand “senasib”. Perhatikan rasio capital account-GDP Thailand (garis coklat): pra krisis diatas 10% ; saat krisis jadi -10% lebih. Pasca krisis Asia, tren capital account untuk Thailand dan Indonesia meningkat, tapi tidak se-ekstrim pra krisis. Thailand nampaknya harus hati2 kalau arus dana lebih banyak jangka pendek. Rasio capital account untuk Korea dan Filipina malah turun; tidak jelas, apakah tren negatif itu karena hot money lebih sedikit, atau investasi jangka panjang dari luar Korea dan Filipina yang lebih sedikit. Satu hal yang bisa disimpulkan dari gambar di atas, kondisi rasio capital account-GDP pra krisis 1997 tidak sama dengan kondisi pra “krisis” 2008. 
 
 Jadi, 2008 itu krisis atau “krisis”? Dari gambar2 yang barusan saya pamerkan, menurut saya, yang sempat kena krisis beneran adalah Korea. Untuk negara ini, empat dari lima leading indicator yang bisa dipakai untuk kasi sinyal krisis 1997/1998 menunjukkan gejala yang sama setidaknya sejak 2004. Korean economy was heading to crisis…kira2 begitu. Untung saja Korea punya cadangan devisa banyak dan dapat bantuan bilateral swap dari Amerika. Untuk Indonesia, leading indicators tidak menunjukkan tanda bahaya. Tentu saja dengan catatan, leading indicators yang saya tunjukan itu boleh nyontek dari paper. Kalau mau bener2 tau dan mengidentifikasi leading indicators ya musti pake proses yang saya ceritakan pada bagian awal tulisan ini.

Menurut saya, Indonesia tidak atau terhindar dari krisis karena kebijakan makro yang diambil tim ekonomi Indonesia beberapa tahun belakangan (sebelum 2008, sebelum bailout Century) tidak salah. Artinya, tidak ada “policy error” (setidaknya dari leading indicator yang saya gambar). Kaitan “selamatnya ekonomi” dengan Century, menurut saya, tidak ada. Bank ini dibailout atau tidak, dilikuidasi setahun dua tahun yang lalu, tidak akan bikin ekonomi makro heading to crisis. Mengkaitkan kinerja policy macro Indonesia dengan “Century mishap” itu sama dengan pernyataan begini: “perbankan Indonesia selamat dari krisis subprime mortgage karena diawasi BI”. Sebab-akibatnya nggak nyambung walau kelihatannya bener; semacam takhayul ekonomi gitulah. Mengapa? Perbankan Indonesia selamat dari krisis subprime mortgage crisis bukan karena diawasi BI; tapi karena memang tidak ada bank2 di Indonesia yang punya exposure ke toxic assets itu. (Yang saya pernah baca, ada nasabah Indonesia dirugikan karena ditawari produk Lehman oleh Citi). Coba saja ditelisik, memangnya ada bank di Indonesia yang pegang (maksudnya invest; bukan cuma dipegang2) toxic assets-nya Lehman atau AIG?? Dalam kaitannya dengan “selamat dari subprime crisis”, perbankan Indonesia diawasi BI atau Depkeu atau Densus88 ya tidak ada hubungannya. Industri keuangan Indonesia belum sampai ke taraf seperti Hong Kong.

Policy error, sayangnya, justru terjadi di area ekonomi mikro (= dalam hal ini pengawasan bank). Sudah semestinya ada penjelasan, mengapa bank semacam Century yang katanya hasil merger supaya bisa sehat, kok tidak kunjung sehat juga, dan terus menerus dikasi toleransi sama pengawas bank. Mencoba mengkaitkan kondisi makro (=kebijakan makro yang diambil) dengan keputusan bailout Century (=pembenaran bailout) itu sama saja beranggapan, bank di Indonesia cuma satu, yaitu bank Century. Dalam kenyataan kan tidak begitu; banyak bank yang lebih bagus, lebih besar dari Century; peranan Century tidak signifikan; produk2nya juga ditawarkan bank lain. Ada ketakutan kalau Century dilikuidasi (=ditutup, dan LPS kasi deposit payout) akan memicu rush bank2 lain; LPS bisa bangkrut karena akan ada 20an bank yang ambruk di-rush nasabah; akan banyak dana kabur ke luar negeri. Ada juga yang menyebarkan takhayul bank bagus pun akan rontok (karena diserbu nasabahnya) kalau Century ditutup. Kejadian rush BCA 1998 biasanya dijadikan argumen konsekuensi nutup Century. Tidak ada blanket guarantee juga dijadikan alasan pembenaran bailout (=untuk mencegah uang terbang ke negeri lain).

Mengenai bank run ini, kenyataan dan studi empiris menunjukkan, tidak ada bank bagus yang rontok diserbu nasabahnya. Kalau sampai ada, tanya juga ini: bank sentralnya ada enggak?? Bank2 diserbu nasabah taruhlah sampai ilikuid (gara2 Century) ya minta bantuan likuiditas darurat ke BI toh? Jadi, sebelum bank2 insolven, ditutup dan simpanan orang diganti sama LPS, bank2 itu musti ke BI dulu minta bantuan likuiditas… Masak belum apa2 sudah minta LPS ganti duit nasabah… Apalagi akhir 2008 BI sudah bikin ringan syarat pemberian fasilitas bantuan likuiditas… Selain itu,katanya, dibikin ringan bukan demi Century … Jadi, kenapa musti “takut” LPS bangkrut karena akan mengeluarkan puluhan trilyun untuk payout deposit?

Yang bikin bank diserbu nasabah, biasanya adalah “sentimen negatif”. Contohnya kasus Northern Rock di Inggris, Bank of East Asia di Hong Kong dan BCA 1998. Rush BCA, menurut saya, lebih banyak dipicu oleh “status pemilik” BCA; bank itu punya Sudono Salim, best buddy of Suharto. Tahun2 itu, segala yang “bau Cendana”, dekat2 sama keluarga Suharto, dan konglomerat etnis Cina jadi pantangan…. Dalam kaitannya dengan “bank run”, sentimen negatif bisa benar bisa juga salah. Yang jelas, setau saya, tidak ada kasus bank run karena 100% panik atau 100% irasional. Buktinya dalam bentuk gambar sudah saya pamerkan di artikel sebelumnya. Kalau waktu itu sentimen negatif sampai terjadi,  Bank Indonesia sebagai otoritas pengawas, juga bisa (dan mestinya) bikin statement seperti otoritas keuangan di Inggris, Hong Kong dan Filipina untuk menenangkan publik. Kalau diam yang dipilih (mungkin karena diam=emas; dan emas harganya mahal?), ya sikap itu tidak pada tempatnya dong…orang2 panik kok tidak say something…. (Atau bailout Century supaya tidak perlu kasi statemen macem2 ke publik??Daripada mengundang pertanyaan??)

Masak pejabat otoritas keuangan yang pinter2 tidak tau 2008 itu Indonesia krisis apa “krisis”?? Mereka tau..saya yang bukan pejabat dan tidak pinter saja tau kok…. Alasan “krisis” memang harus ada karena Perpu JPSK itu baru bisa dipakai kalau krisis. Kutipan Bab I pasal 1, ayat 1 Perpu itu begini: JPSK adalah suatu mekanisme pengamanan sistem keuangan dari krisis yang mencakup pencegahan dan penangangan krisis. Jadi semisal bisa dibuktikan tahun 2008 ekonomi Indonesia baik2, tidak krisis sekalipun (lihat juga referensi World Bank mengenai dampak krisis Amerika ke negara berkembang), alasan “krisis” harus tetap ada; mereka sudah terlanjur pake Perpu JPSK. Mau tau definisi “krisis” menurut Perpu JPSK? Krisis adalah suatu kondisi keuangan yang sudah gagal secara efektif menjalankan perannya dalam perekonomian nasional (Bab I, pasal 1, ayat 2). Intepretasi saya, kalau tidak krisis, ya nggak boleh menangani bank/lembaga keuangan pake Perpu JPSK itu…. Dah terlanjur….

Sri (crisis or not crisis that is the question)

http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/C7402D01-A030-454A-BC75-9858774DF852/17685/Perpu4Tahun2008JaringPengamanSistKeu.pdf

http://stats.oecd.org/glossary/detail.asp?ID=2243

http://www.adb.org/Documents/Books/Key_Indicators/2009/Country.asp

http://rspas.anu.edu.au/economics/staff/athu/Athukorala%20and%20Warr%202002.pdf

http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.29.1759&rep=rep1&type=pdf

 http://www.imf.org/external/pubs/ft/wp/2002/wp0203.pdf

 

 http://www.bankofengland.co.uk/publications/fsr/2000/fsr09art3.pdf

 http://www.eizg.hr/AdminLite/FCKeditor/UserFiles/File/ces4-ahec-sonje.pdf

link di atas sudah ganti di http://hrcak.srce.hr/file/9657

 http://cdi.mecon.gov.ar/biblio/docelec/fmi/SP992-1.pdf

 http://www.nber.org/papers/w7139.pdf

 http://web.nps.navy.mil/~relooney/WE_29.pdf

 http://lsb.scu.edu/~kmitchener/currentcourse/Econ%20137/The%20IMF%20and%20the%20Asian%20Crisis.pdf

 http://web.mit.edu/krugman/www/FLOOD.pdf

 http://crisistalk.worldbank.org/files/International_Financial_Crisis.pdf

http://rru.worldbank.org/documents/CrisisResponse/Note1.pdf

 

1 Comment »

  1. Kalau ada link / url yang sudah tidak bisa lagi di klik, tolong kasi tau, biar saya carikan url updatenya. Di tulisan ini ada satu url http://www.eizg.hr/AdminLite/FCKeditor/UserFiles/File/ces4-ahec-sonje.pdf yang sudah diganti dari sononya. Artikel itu mengenai krisis keuangan di Kroasia…url yang baru http://hrcak.srce.hr/file/9657 sudah saya update di daftar referensi.

    Comment by srikripik — March 3, 2012 @ 12:12 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: