Blognya si Sri

January 14, 2010

Dinamika indeks harga saham periode krisis (dan “krisis”) dalam gambar

Indeks harga saham, konon, bisa jadi leading indicator krisis ekonomi. Mirip dengan pertumbuhan GDP atau pertumbuhan ekspor…kalau trennya turun, jadi sinyal ekonomi lesu. Kali ini saya mau pamerin gambar2 indeks harga saham di pasar modal Indonesia, Filipina, Korea dan Thailand dari Desember 1994 sampai November 2009. Malaysia tidak saya gambar karena pada tahun 2008 index berubah dari Kuala Lumpur Composite jadi FBM Emas Index; angka2 jadi berubah tinggi sekali dari 1000an jadi 9000an. (Saya nggak tau kenapa atau apa alasannya diubah begitu. Yang jelas, tidak pakai Malaysia sebagai pembanding “doesnot  hurt” karena bisa digantikan oleh negara2 tetangga yang lain). Saya pengen tau dan pengen bandingin seberapa parah fluktuasi indeks saham dan bagaimana proses “recovery” antara krisis 1997/1998 dan “krisis” 2008. Saya juga posting gambar perubahan indeks saham di negara2 Amerika, Eropa, dan Asia Pasifik tahun 1997 dan tahun 2008.

Data saya ambil dari websitenya World Federation of Exchanges; komplit skali, sayang cuma sediain data bulanan…tapi untuk nge-blog begini kayaknya dah memadai lah. Saya ambil dari situ karena data sudah dalam bentuk spreadsheet tinggal tarik saja… Kalau ada angka yang missing (Filipina Januari-Maret 2006) saya “tambal” dari data Bloomberg. (Anehnya: cari data negeri sendiri kok malah lebih gampang dapetin dari database di negara maju ya…). Angka2 yang saya bikin grafik adalah angka nominal; artinya tidak saya sesuaikan dengan patokan tahun atau bulan tertentu (misal tahun 2000=100, karena saya terus terang tidak tahu tahun mana yang musti dijadikan “base year”). Gambar2nya seperti ini:

Data Filipina di WFE baru tersedia Januari 1996; itu sebabnya ada “gap” di sebelah kiri. Kalau indeks saham jadi indikator ekonomi melambat (=heading to crisis), mestinya sudah menunjukkan tren negatif (dari kiri atas ke kanan bawah) beberapa saat sebelum krisis. Dua atau tiga tahun menjelang krisis 1997, indeks saham Indonesia sebetulnya positif. Mungkin ini berarti indeks saham tidak terlalu bagus untuk jadi sinyal krisis di Indonesia (?). Sebaliknya, tiga negara yang lain, indeks saham menunjukkan tren yang negatif (= bisa jadi sinyal krisis is on the way).

Bandingin anjoknya indeks periode 1997–1998 dengan 2008–2009 cukup menarik. Indeks saham pada krisis 1997–1998 cenderung drifted ke kanan, kecuali untuk Filipina. Tapi sepuluh tahun kemudian, seperti yang ditunjukkan gambar di atas, indeks recover lebih cepat. Mungkin dipengaruhi oleh optimisme pelaku pasar di Asia bahwa kondisi makro ekonomi dan sosial politik lebih kondusif dibanding 1997–1998. Kalau diperhatikan, indeks saham Indonesia, Thailand dan Korea sebetulnya mirip, terutama pada periode krisis 1997–1998 (lihat gambar yang dibawah) dan periode pemulihan (awal 2000). Mungkin karena tiga negara itu “senasib” atau “satu perahu” ya? Pergerakan indeks 1997–1998 dan periode pemulihan kalo di-close up seperti ini:

Kalau mau lihat lebih jelas gambar indeks saham Indonesia periode krisis dan “krisis” (angka2 nominal ya), gambarnya seperti ini:

Index tertinggi yang pernah dicapai (ini angka nominal)  adalah 2745.83 (bulan Desember 2007). Bulan November 2008 tinggal 1241.54. Kalau diperhatikan dari titik November 2008 ke kanan, indeks tidak “drifted” seperti 1997–1998; tapi pulih cukup cepat. Apa karena Century di-bailout?? (=kalau tidak di-bailout , indeks akan drifted ke kanan bawah, berkepanjangan bikin indeks berantakan). Dikira2 saja sendiri deh peran Century di pasar modal Indonesia; kalau mau dihitung serius pake systemic risk model juga bisa….

Kalau mau lihat dinamika, naik turunnya indeks saham Indonesia (bulanan; mustinya harian tapi data gak punya) dari 1994–2008 seperti ini. Bisa dibandingkan sendiri perubahan indeks saat krisis mulai menghantam rupiah (pertengahan 1997 -1998) dengan saat “krisis” 2008.

Indeks saham turun drastis, sekitar 31%, dalam satu bulan pada masa krisis 1997 dan “krisis” 2008. Bedanya, periode 1997–1998 (bahkan sampai 1999) fluktuasi lumayan ekstrim. Tahun 1999 misalnya, ada dua spikes ke atas…(Kayaknya kalau dilihat dari gambar di atas, perubahan yang normal +/– 10%.) Memang ada pendongeng ekonomi krisis yang bilang, gerakan indeks saham pada 1997–1998 banyak dipengaruhi oleh berita lokal dan berita negara tetangga. Katanya, berita yang bisa bikin indeks berubah banyak adalah  berita mengenai kesepakatan pemerintah dengan lembaga internasional, berita dari lembaga pemeringkat, dan berita kebijakan moneter dan fiskal; berita mengenai situasi politik tidak terlalu banyak pengaruhnya. (Pendongeng ini pakai data harian, 10% perubahan dalam sehari dianggap besar).

Pada saat 16 bank ditutup IMF bulan November 1997  indeks saham ada di level 401.71; indeks juga turun sekitar 19.7% dibandingkan bulan Oktober. Apa drop lumayan besar ini dipengaruhi hanya oleh berita likuidasi 16 bank ?(sehingga pemerintah enggan tutup Century karena khawatir indeks sekitar November 2008 anjok seperti sepuluh tahun lalu?). Kayaknya sih tidak. Menutup 16 bank secara bersamaan memang mengejutkan (diumumkan dalam sehari; 16 yang ditutup itu: BHS, Sejahtera Bank Umum, Andromeda, Pacific, Astria Raya, Guna Internasional, Dwipa, Kosagraha, Industri, Jakarta, Citrahasta Dhanamanunggal, SEAB, Mataram, Pinaesaan, Anrico dan BUMJ). Tapi, bulan November 1997 banyak kejadian penting yang bikin kaget di kawasan Asia Tenggara: Sanyo Securities bangkrut, Hokkaido Takushoku, bank besar di Jepang, bangkrut, pemerintah Korea minta bantuan ke IMF. Ketika Korea yang ekonominya lebih kuat secara resmi ikut “sakit”, pesimisme kayaknya nyebar kemana2. Indeks saham Asia Pasifik pada bulan itu juga anjlok (lihat gambarnya jauuuh di bawah).

Indeks saham meningkat drastis dari Desember 1997–Januari 1998, cukup besar, 37%. Di dalam negeri sebetulnya berita2 ekonomi dan politik tidak terlalu positif (orang borong sembako, pemerintah mengumumkan budget yang dinilai tidak realistis, dst) kecuali pengumuman blanket guarantee dan pembentukan IBRA/BPPN. Tapi di Korea, ada kabar kreditor mulai berunding dengan pemerintah dan pengusaha Korea. Mungkin hal2 tersebut mengangkat semangat investor (?). Kira2 tujuh bulan kemudian, indeks saham Indonesia anjlok lagi sekitar 29% (Juli-Agustus 1998). Kali ini, menurut saya, Rusia yang jadi penyebabnya. Pemerintah Rusia mengumumkan akan berhenti bayar utang; indeks saham di Brazil dan Dow Jones anjok. (lihat time line PBS).

Kalau mau cocokin dinamika indeks saham dengan peristiwa2 penting 1997–1999 bisa lihat di box berikut yang saya contek dari papernya Charles Enoch  Bisa juga ke http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/crash/etc/cron.html untuk

timeline seputar krisis Asia dan Rusia 1998. Itung2 nostalgia mengingat gimana jeleknyanya situasi waktu itu.

Kronologi krisis Indonesia dan Asia Tenggara 1997–1999

Box2.A Chronology of the Asian Crisis, March 1997-July 1999

1997

July 2

Thai baht is floated and depreciates by 15-20 percent.

July 11

Widening of the rupiah’s band

July 24

“Currency meltdown”—severe pressure on rupiah, baht, ringgit, and peso.

August 14

Authorities abolish band for rupiah, which plunges immediately.

August 20

Three-year Stand-By Arrangement with IMF approved by Thailand.

October 31

Agreement on first IMF-supported program with Indonesia.

November 1

Bank resolution package announced; 16 commercial banks closed; limited deposit insurance

for bank depositors-

November 5

Three-year Stand-By Arrangement with IMF approved.

November 19

Exchange rate band widened in Korea. Won falls sharply.

December 4

IMF approves three-year Stand-By Arrangement for Korea, but rollover of short-term debt

continues to decline.

Mid-December

Deposit runs on Indonesian banks, accounting for almost half of banking system assets.

1998

January 15Mid-January

Second IMF-supported program for Indonesia announced (in the event never approved), Continuing downward pressure on the rupiah; continuing massive liquidity support to banking sector

January 27

Indonesian Bank Restructuring Agency (IBRA) established and blanket guarantee announced.

February 14

Unpublicized IBRA interventions into 54 banks

Late-February

Pre-election period. Doubts about future of financial sector program grow stronger amid political uncertainty. Rupiah depreciates further and currency board is debated,

February 23

BI Governor Djiwandono dismissed.

February [30]

First Chairman of IBRA dismissed.

March 6

New regulations introduced for BI liquidity support

March 11

President Soeharto re-elected.

April 4

IBRA closes seven banks and takes over seven others.

April 8

Announcement of agreement on revised IMF-supported program.

May 4

Approval of revised IMF-supported program.

Mid-May

Widespread riots. Rupiah depreciates; targeted deposit runs resume; Bank Indonesia

provides liquidity.

May 21

President Soeharto is replaced by B.J. Habibie.

May 29

Bank Central Asia (largest private bank) taken over by IBRA.

June 5

International lenders and Indonesian companies agree on framework for corporate debt rescheduling.

July 29

First auction of Bank Indonesia bills.

August 21

Closure of three banks taken over by IBRA in April 1998.

September 21

Revised agreement on so-called shareholder settlements.

September 29

Bank Mandiri created through merger of four largest state-owned banks. Governor of BI

announces private bank recapitalization plan.

October 6

Amended Banking Law passed, providing legal powers for IBRA.

Mid-October

Rupiah strengthens from 11,000 to 7,000 per U.S. dollar.

1999

March 13

Government closes 38 banks and IBRA takes over seven others. Eligibility of nine banks for

joint recapitalization with government announced.

April 21

Closure of two joint-venture banks-

April [ ]

Government announces plans to recapitalize the three other state banks.

June 7

Parliamentary elections give largest block of seats to opposition party.

June 30

Eight private banks recapitalized jointly through public and private funds.

July 5

Government announces plan for resolution of IBRA banks through merging most of them

within the largest bank, Bank Danamon.

July 31

Legal merger of component banks of Bank Mandiri.

August

Growing row over possible government involvement in side-payment agreement connected

to recapitalization of Bank Bali.

October 19

President Habibie announces he will not stand in forthcoming Presidential election.

October 20

Abdurrahman Wahid elected President. Megawati Sukarnoputri elected Vice-President.

October 21

First tranche of capitalization of Bank Mandiri.

October 26

Announcement of new Cabinet.

Dikutip dari Indonesia: Anatomy of a banking crisis, two years of living dangerously 1997–1999, halaman 11–12.

Perubahan Indeks harga saham di Amerika, Eropa & Timur Tengah, Asia Pasifik tahun 1997 dan 2008:

Enam gambar terakhir ini dinamika indeks saham di kawasan Amerika, Eropa & Timur Tengah, dan Asia Pasifik. Yang saya gambar adalah perubahannya (incremental dan decremental). Tujuannya supaya bisa lihat bagaimana indeks berubah kadang bersama2 kalau ada kejadian penting yang bikin pesimis dan optimis.

Amerika 1997 dan 2008

Pada saat Asia Tenggara kena krisis, perbahan indeks saham di bursa Amerika tidak “kompak”. Antara September-Oktober ada penurunan (Sao Paolo anjlok hampir 25%; tampaknya bursa negara2 Amerika Latin “ikut” prihatin dengan krisis Asia Tenggara…lebih solider gitulah). Bulan2 berikutnya perubahan indeks di bursa Amerika lebih bervariasi.

Gambar yang di bawah ini perubahan indeks sepanjang tahun 2008. Saya tidak tau kenapa bursa Kanada sepertinya tidak masuk lagi di data WFE. Jadi, yang 2008 ini sepertinya hanya data dari Amerika Serikat dan negara Amerika Latin. Antara September-Oktober penurunan paling kecil -7% (Bermuda), lalu -9% (Santiago). Bursa lain ambruk diatas 10%. Maklum, kali ini krisis berawal dari Amerika Serikat….

Eropa dan Timur Tengah 1997 dan 2008

Bursa Eropa dan Timur Tengah waktu krisis Asia Tenggara 1997 dinamikanya seperti gambar di bawah ini. Antara bulan September-Oktober 1997 waktu sebagian bursa turun nilai (Athena anjlok 16%), indeks bursa Turki malah meningkat 10%.

Tapi bandingkan kondisi yang ada di gambar 2008… Antara bulan September-Oktober semua bursa Eropa dan Timur Tengah turun indeksnya. Bursa Swis anjok cuma 7.5%…tapi lihat itu bursa mana yang turun nilai sampai diatas 70% (saya kasi titik merah)….itu bursa Islandia…. Krisis Amerika Serikat, dampaknya signifikan di bursa Eropa dan Timur Tengah.

Asia  Pasifik 1997 dan 2008

Antara Juli-Agustus 1997, indeks bursa Asia Pasifik sudah berguguran. Drop paling besar di bursa Indonesia, sampai 31%. September-Oktober, drop terbesar dialami bursa Hong Kong dalam sebulan  -29% dan Korea 27%.  Hong Kong dolar waktu itu diserang spekulan karena pemerintah meningkatkan suku bunga sampai 300% untuk mempertahankan nilai tukar HK dolar. Sementara Won Korea mulai melemah… Tampak gerakan bursa Asia Pasifik pada periode ini (sejak Juli 1997) lebih kompak dibandingkan dua bursa di belahan dunia lain.

Sama seperti dua bursa lain, indeks di pasar modal Asia Pasifik juga turun pada periode September-Oktober 2008. Indonesia dan Thailand drop sekitar 30%; yang anjlok paling kecil adalah New Zealand (-8%). Jadi bisa kita lihat sama2 ya…ketika krisis dimulai dari negara macam Amerika Serikat, semua bursa solider…ambruk (September-Oktober). Ketika Amerika mulai recover, semua juga ikut… Bandingkan dengan periode krisis Asia Tenggara…cuma bursa Asia Pasifik saja yang drop beberapa kali (Juli-Agustus; September-Oktober). Bursa di benua lain tidak terlalu kompak…ada yang drop ada yang tidak.

Lha apa hubungannya gambar2 itu sama Century?? Seperti yang saya bilang di bagian awal, “krisis” 2008 itu tidak sama dengan 1997–1998. Dinamika bursa adalah salah satu ukuran kondisi ekonomi kawasan atau negara. Krisis 2008 episentrumnya ada di kawasan lain. Sehingga kalau toh Century dilikuidasi (=LPS kasi deposit payout), menurut saya, unlikely akan menggoncang bursa Indonesia (= drop berkali-kali seperti gambar 1997), apalagi Asia Pasifik.

Yang ndongeng dan nggambar: Sri

http://www.bloomberg.com/apps/cbuilder?ticker1=PCOMP%3AIND

http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/crash/etc/cron.html

http://www.world-exchanges.org/

http://papers.ssrn.com/sol3/Delivery.cfm/WPIEA0522001.pdf?abstractid=879456&mirid=4

http://home.gwu.edu/~graciela/HOME-PAGE/RESEARCH-WORK/WORKING-PAPERS/jitters.PDF

2 Comments »

  1. Hi, very interesting post, greetings from Greece!

    Comment by Insinnine — December 9, 2010 @ 1:34 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: