Blognya si Sri

January 6, 2010

Krisis (dan “krisis”) dalam gambar_update1

Kalau mau nonton gambar2 krisis dan “krisis”, ini saya ada tambahannya…jangan terlalu serius (apalagi sampe jerit2) karena cuma untuk lucu2an aja. Data masih musti dicek lagi (dari sononya ada yang missing, ada yang tertukar dengan data negara lain, dst dst). Data juga pengennya saya lengkapi sehingga periode 1997-1999 bisa tampak juga proses pemulihannya. Kesulitannya, untuk hal yang sama, sumber data ada yang bisa didownload, ada yang dari print out…format juga nggak sama…ada yang bisa langsung masuk excel, ada yang musti “dimacem-macemin” dulu, ada yang dalam pdf. Satu hal yang saya jamin, gambar tidak bakal tertukar: kondisi 2007-2009 ditampilkan dengan data 1997-1999 (yang kuning itu)….supaya kelihatan gawattt benerrrr…

Iseng2 bandingin kondisi 1997-1998 dengan 2007-2008…Kalau mau serius, perbandingan dua periode itu musti diuji statistik. Tapi karena ini cuma iseng2 aja.. jadinya cuma saya tarik pake excel…just for fun… Data saya kumpulkan dari berbagai sumber: publikasi BI, website BI, dari internet http://fx.sauder.ubc.ca/data.html (untuk data kurs harian). Ada yang sudah dapat sepasang (data kurs dan interbank rate); ada yang belum (maunya pamer data leading indicator krisis). Untuk yang sudah didapat, gambar2nya bisa ditonton dibawah ini….
Kurs rupiah terhadap dolar dari tanggal 2 Juni 1997-31 Juli 2000 (data harian):
Kurs rupiah terhadap dolar bulan Juni 1997 sekitar 2400, tapi akhir 1997 sudah diatas 5000. Nilai rupiah terus memburuk, dalam waktu kurang dari 1 bulan sudah 14000 (23 Januari 1998). 17 Juni 1998 sempat 16000. Setelah itu terus menguat dibawah Rp 10000 (mulai Oktober 1998). Bagaimana gejolak kurs tahun 2007/2008?? Apa benar “melonjak-lonjak”? Berikut ini gambarnya…
Kurs rupiah terhadap dolar 1 Juni 2007 – 31 Juli 2009 (data harian):
Juni 2007, kurs rupiah sekitar 8800, tapi 24 Oktober 2008 sudah 10000 . 3Desember 2008 sempat sampai Rp 12000; lalu agak menguat, melemah lagi Maret 2009. Setelah itu trend rupiah terus menguat. Kalau dua grafik dibandingkan, (mata nggak lagi belekan ni…), jelas gejolak kurs rupiah 1997/1998 tidak sama dengan 2007/2008. Tapi stabilnya kurs rupiah ada harganya…Krisis keuangan internasional membuat modal asing di Indonesia “dipanggil” pulang. Akibatnya permintaan dolar naik. Supaya kurs tidak terlalu berfluktuasi, BI melakukan intervensi; cadangan devisa dipakai untuk jaga kurs, sehingga bulan November 2008 devisa Indonesia tinggal USD 50 milyar (lihat gambar cadangan devisa di bawah). Jumlah itu terendah di 2008. BI juga melonggarkan GWM valas dan (kalau tidak salah) aturan posisi devisa neto. Tujuannya supaya pasokan dolar di pasar bertambah, dan orang tidak kejar2 dolar.

Rupiah sempat terpelanting ke 10000, salah satu sebabnya pada bulan September 2008, di Amerika banyak kejadian penting. Pertengahan September Lehman Brothers menyatakan diri bangkrut. Kira2 dua hari setelah Lehman, AIG di-bailout pemerintah Amerika. Beberapa hari kemudian Paulson dan Bernanke datang ke Kongres minta USD 700 milyar dalam rangka penyelamatan ekonomi Amerika. Krisis yang berawal di sektor keuangan Amerika akhirnya sudah mempengaruhi ekonomi negara2 lain. Pemerintah Islandia sampai bangkrut karena semua bank2 nya ambruk (aset tiga bank utama sudah 14x GDP negara itu. Bank2 Islandia membiayai investasi dari international money market yang mendadak kering saat krisis Amerika menular ke Eropa) . Rusia dan IMF sudah dijajaki untuk pinjam uang. Sementara itu pemerintah negara2 di Eropa Timur, Amerika Latin, Asia Selatan, sampai Asia Tenggara intervensi habis2an untuk mempertahankan mata uang masing2. Ini gambar2nya…

(Sebelum nonton gambar, sekali lagi mengenai data: Cadangan devisa (Reserve assets) datanya saya ambil dari Indonesian Financial Statistics (Stastistik Ekonomi Keuangan Indonesia). Angka2 cadangan devisa di publikasi tersebut bersumber dari International Financial Statistics terbitan IMF. Definisi cadangan devisa IMF agak beda: tidak termasuk emas moneter. Sehingga, cadangan devisa Indonesia menurut IMF (pada bulan November 2008 misalnya) lebih kecil sekitar USD2 milyar.)

Korea Selatan memiliki cadangan devisa sekitar 4-5 kali cadangan devisa Indonesia. Pertengahan 2008 cadangan devisa Korea (garis biru) masih sekitar USD 247 milyar. Tapi dalam waktu 4 bulan, November 2008, cadangan devisa Korea tinggal USD 200 milyar. Malaysia juga mengalami hal yang mirip. Grafiknya seperti ini:

Malaysia (garis pink) pada Juli 2008 punya cadangan devisa USD 125 milyar, tapi bulan Desember2008 tinggal USD 91 milyar (berkurang 27%). Memang tidak semua negara mengalami tekanan cadangan devisa sekitar bulan September- November 2008. Cadangan devisa Hong Kong meningkat sedikit; demikian pula Filipina. Akan tetapi, di beberapa negara utama Amerika Selatan, kondisinya tidak jauh beda: cadangan devisa berkurang karena pemerintah melakukan intervensi menstabilkan mata uang.

Kejadian2 di luar Indonesia itu, mungkin, “rekindle ugly memory” pejabat otoritas keuangan di Indonesia. Jangan2 ini kayak sepuluh tahun lalu…. Sepuluh tahun yang lalu dimulai dari Thailand..bagaimana kalau kali ini dimulai dari Malaysia?? Beberapa negara tetangga mulai memberlakukan blanket guarantee untuk mengimbangi negara pesaing (seingat saya, yang mulai Hongkong, lalu diikuti Singapore)… Ibarat terperangkap ditengah badai, tidak ada yang tau kapan badai akan berakhir… Korea yang cadangan devisa jauh lebih besar saja kehilangan USD 47 milyar hanya dalam waktu 4 bulan sebagian besar untuk menstabilkan Won..dan jumlah itu sama dengan seluruh cadangan devisa Indonesia…Gimana kalau badai ini berkepanjangan…gimana bisa bertahan dengan devisa pas-pasan gini?? …siapa yang tau kapan krisis sub prime mortgage berakhir?

Ada “hantu” likuiditas di pasar uang

Pada bulan2 itu (sekitar September 2008), pasar uang virtually dissapear. Bank2 tidak mau meminjamkan uang ke counterparty. Ini terjadi dimana-mana, termasuk di Indonesia. Ada yang bilang, situasi pasar uang mencekam mirip kondisi 1997-1998. Apa benar gitu? Kita tonton dulu gambar 2007-2008… Kalau lihat grafik suku bunga overnight di pasar uang Indonesia, tahun 2008 semester kedua sebetulnya tidak terlalu berfluktuasi walaupun bisa sampe 9%. (Bank Century dapat LOLR dan di PMS bulan November 2008). Suku bunga rata2 overnight tahun 2007 malah lebih berfluktuasi dibanding semester kedua 2008 dan tahun 2009. Ini grafiknya: 

Suku bunga overnight transaction di pasar uang, sesi sore, rata2 tertimbang, dari Januari minggu pertama 2007-Oktober minggu keempat 2009:

Bulan Maret 2007 minggu keempat bunga overnight transaction 10.77%, tapi dua minggu kemudian sudah 8%. Oktober 2007 minggu ketiga malah 2.15%, tapi November 2007 minggu pertama sudah 10.62%. Maret 2008, suku bunga overnight rata-rata jadi sekitar 8%; sejak itu suku bunga jadi lebih stabil walau tren-nya meningkat. November 2008 jadi sekitar 9% (naik dua kali lipat dibandingkan Januari minggu pertama 2007; tanda uang mahal). Setelah itu tren suku bunga overnight terus turun jadi sekitar 6%. Coba bandingkan gambar di atas dengan gambar suku bunga interbank periode 1997-1999 di bawah ini:

Suku bunga call money transaction, rata2 tertimbang, dari Januari minggu pertama 1996 sampai Januari minggu kedua 2000:

Dari gambar di atas, kita bisa sama2 lihat suku bunga call money periode Agustus 1997-1998 berfluktuasi dengan tren meningkat, beda dengan periode 2007/2008 (selama satu setengah tahun berfluktuasi, tapi tren tidak meningkat). Pada bulan Agustus 1997 minggu pertama, suku bunga call money mulai meningkat dari sekitar 12% persen jadi sekitar 23.19%; minggu kedua sudah 26.23%; minggu ketiga melonjak jadi 136.86%. Sejak itu, suku bunga call money tetap “terbang” diatas 20% (bahkan diatas 30%) kira2 selama 2 tahun. Baru pada bulan Agustus 1999 suku bunga kembali sekitar 12%. (Data interbank transaction yang tersedia untuk dua periode itu sebetulnya tidak persis sama. Data 1996-2000 adalah data suku bunga call money transaction; sedangkan data 2007-2009 adalah data suku bunga overnight transaction sesi sore. Grafik sesi pagi tidak jauh beda.)

Gosip di jalanan…

Yang bikin suasana September 2008 makin “kelabu”, adalah berita bank run di Hong Kong. Tanggal 25-26 September 2008, nasabah Bank of East Asia Hong Kong rame2 tarik dana. Rumor yang disebarkan lewat sms bilang, bank ini punya eksposur besar di Lehman Brothers dan AIG; sebentar lagi diambilalih pemerintah. Bank of East Asia adalah bank kelima terbesar (ada yang bilang ketiga terbesar). Manajemen bank mengakui punya eksposur di Lehman Brothers dan AIG, tapi tidak banyak. Tapi seminggu sebelumnya bank juga mengumumkan ada penggelapan di transaksi derivatif sehingga ekspektasi earning musti dikoreksi. Rating agency S&P dan Moody’s langsung downgrade dan kasi rating negatif.

Kantor cabang Bank of East Asia di Singapore juga kena imbas rush nasabah. Tapi, bank run di Bank of East Asia tidak menjalar ke bank lain. Setidaknya, tidak ada berita, bank2 lain di Hong Kong juga diserbu nasabah untuk tarik dana. Mirip seperti Northern Rock. Orang antri dua-tiga hari, tapi nasabah bank2 lain relatif tenang. (Mengenai bank run, saya tulis di http://grundelanbankcentury.blogspot.com/2009/09/dongeng-bank-run.html).

Bagaimana situasi dana pihak ketiga Indonesia 2007-2009? Apa dalam kondisi “gawat dana” seperti tahun 1997-1999? Coba kita tonton sama2 gambarnya ya… ini yang 2007-2008 dulu…

Dana pihak ketiga Juli 2007-Juli 2009

Garis ungu tebal adalah total dana pihak ketiga (tidak termasuk BPR) Juli 2007-Juli 2009. Angka2 sudah disesusaikan dengan GDP deflator tahun masing2; kecuali untuk data 2009 pakai GDP deflator 2008. Ada drop lumayan besar dari bulan Desember 2007 ke Januari 2008. Nampaknya ini pengaruh inflasi (?) karena angka GDP deflator juga besar (di gambar kredit juga begini).

Kembali ke dana pihak ketiga: walaupun ada “drop” besar bulan Januari 2008, pengumpulan dana masyarakat terus berlangsung dengan baik; trendnya oke2 aja…kayaknya sih 2007-2008 tidak seperti yang 1997-1999… Mau lihat? Ini gambarnya…
Dana pihak ketiga Januari 1997-Desember 1999
Ada drop sedikit bulan November 1997; waktu itu kurs rupiah sudah mendekati 4000, suku bunga call money sekitar 37%-47%. Bunga tabungan mungkin juga meningkat (belum sempat cari datanya) ;tapi kondisi berubah drastis pada tahun 1998.
Menurut saya, ada beberapa hal menarik dari gambar dana 1997-1999: pertama, total dana di industri perbankan “terjun bebas” dari Desember 1997 ke April 1998; tapi lalu meningkat lagi Juni 1998. Ingat gambar kurs rupiah Desember 1997 (jauuuh di atas ya…)…Rupiah terdepresiasi 100% dari 2400an jadi 5000an. Pemerintah sudah tidak bisa lagi defend rupiah, akhirnya rupiah diserahkan ke pasar. Situasi politik, inkonsistensi pemerintah Indonesia dengan IMF, kerusuhan etnis ikut bikin penabung was-was… Akhirnya orang tarik uang rame2… Ketika masyarakat mulai datang lagi ke bank (Juni 1998), sebagian dana tidak kembali ke industri perbankan. Mungkin kabur ke luar negeri bersama-sama pemiliknya… (ini namanya “panic”, bukan hanya “bank run”). Tren total dana dibulan2 berikutnya juga tidak meningkat, landai saja… Ekonomi kontraksi, orang tidak banyak punya sisa uang untuk ditabung….
Hal menarik yang kedua, kalau dilihat gerakan dana menurut kepemilikan bank, nampaknya tidak semua jenis bank mengalami “bleeding” pada masa “gawat dana” sepuluh tahun lalu. Bank swasta nasional (garis pink) mengalami rush paling parah-for obvious reasons (sentimen konglomerat…jangan2 besok pagi banknya sudah lenyap ditelan krisis, dst)… Tapi coba lihat bank yang dimiliki pemerintah daerah (garis hijau) dana mereka stabil; bank pesero (garis biru) setelah April 1998 dana yang dihimpun malah meningkat lebih banyak dari sebelum krisis. Juga bank asing: tren dana malah meningkat, tidak ada drop (mungkin mereka malah pengen tolak dana kalau bisa). Dengan kata lain, periode 1997-1999 ada “panic”, tapi ada juga “flight to quality” atau “flight to safety”. Masyarakat milih2 tempatkan uangnya; mereka untuk sementara tidak percaya sama bank swasta nasional (siapa bilang depositor cuma bisa panik dan melakukan hal2 irasional??)
Banyak yang bilang, bailout Century itu justified karena kalau tidak dibailout akan terjadi geger perbankan: bank run, nasabah pindahin uang ke negeri lain, dst2. Saya sudah tunjukan gambarnya ya…bahkan pada saat “gawat darurat ekonomi”, dana yang sempat keluar dari industri perbankan “hanya” sekitar 30% (antara Desember1997- April 1998); lalu balik lagi sekitar 20% bulan Juni 1998. Jadi total yang hilang 10% (antara Desember 1997-Juni 1998; ini itungan bodo2an). Padahal waktu itu belum ada LPS (baru dibikin 2004).
Kekacauan dalam industri perbankan sendiri juga parsial: seperti yang saya bilang barusan, hanya bank swasta nasional yang kena paling parah. Mereka juga kehilangan nasabah (= banyak yang tidak balik, pindahin dana ke bank non swasta nasional)… padahal waktu itu dah gawat bener toh? Banyak bank ditutup dan kena isu macem2…apalagi kurs rupiah melonjak2 beneran…
Lha Century itu kalau ditutup November 2008 apa bisa bikin BCA klenger (lagi) karena di-rush nasabah??? (=Century jadi pemicu “kekacauan perbankan”?) Atau penutupan Century tidak bisa dilakukan karena waktu itu sudah ditengah krisis (kalau dilihat dari gambar2 kayaknya tidak ditengah krisis…belum lagi mulai di Indonesia…)
(Sampai sekarang, bailout Century dan argumentasinya susah masuk diakal saya…Dipikir2 kok mirip cerita adanya WMD di Irak yang berusaha dijejalkan GW Bush ke dunia…akhirnya terbukti bukan WMD-Weapon of Mass Destruction tapi WMD-Weapon of Mass Deception… )
Kalau pada masa krisis 1997-1998, kondisi dana seperti itu, gimana kreditnya?? Saya tunjukkan yang kuning dulu….
Kredit Januari 1997-Desember 1999
Tren kredit 1997-1999 mirip dengan tren dana periode itu-seperti huruf M. Bedanya dengan gambar dana, kredit langsung drop banyak sekali setelah Juni 1998. (Sayang data setelah 1999 belum dapat…nanti di update lagi supaya bisa ditonton kapan recovery).
Lalu kredit 2007-2009 itu seperti apa tren-nya?…coba tebak…ya… seperti dana yang dihimpun bank diperiode yang sama… Kayak gini gambarnya…

Kredit Oktober 2007-Oktober 2009

Seperti yang sudah saya kemukakan, ada drop besar antara Desember 2007 dan Januari 2008; mungkin karena inflasi (?). Tapi yang jelas, dana pihak ketiga trennya bagus, kredit juga bagus… Apa dengan melikuidasi Century (November 2008 atau bahkan sebelumnya) semuanya bisa berantakan?? Bulan berikutnya ekonomi Indonesia terjun bebas seperti periode Desember 1997-April 1998? Lalu terjadi kontraksi ekonomi di tahun 2009-2010 karena “kualat”-tidak bailout Century??… Susah dicerna ini… (anyone can help maybe??)…

Menurut saya, disinilah letak pentingnya argumen resiko sistemik. Kalau pengawas BI bisa membuktikan bahwa likuidasi Century (= tidak di PMS) akan mengakibatkan geger ekonomi (sehinga sama dengan periode 1997-1998, atau bahkan lebih buruk lagi), ya berarti kebijakan itu justified. Masalah nabrak peraturan dan undang-undang mungkin bisa dianggap “terpaksaaaaaa banget”. Tapi kalau analisa resiko sistemik saja tidak tuntas (seperti yang ditulis Imam Sugema di Republika 4 Januari 2010), bagaimana orang percaya? Awam kayak saya, akhirnya wondering “gimana penalarannya, dari level individual bank sekaliber Century ditarik ke level makro (kurs, situasi pasar uang, total dana pihak ketiga yang dikhawatirkan “lari”, dst)??”. Sistemiknya dimana Century itu??

Memang kurs rupiah tahun 2008 sempat drop; memang cadangan devisa sempat banyak terpakai untuk mempertahankan rupiah (ini tugas BI). Tapi apa waktu itu tidak ada yang kasi presentasi leading indicator currency crisis, banking crisis, speculative attack dan sebangsanya ke pejabat yang musti bikin keputusan??? (Sehingga bisa bedain fenomena yang “begitu” benernya nggak perlu bikin mereka “cold feet” lalu kalap bailout bank jelek??) Bawahan yang “membiarkan” atasannya bikin keputusan gombal, mustinya dibuang ke laut aja….Sebaliknya atasan yang sengaja bikin keputusan gombal biar sudah dikasi advis bagus sama bawahan2nya…mustinya diapain ya….
Lain Indonesia, lain Filipina…
Jadi settingnya di Indonesia pada saat itu kira2 gini: kondisi cadangan devisa semester kedua 2008 agak mengkhawatirkan. Otoritas keuangan tidak tau seberapa banyak lagi devisa harus dipakai untuk menstabilkan rupiah. Belum lagi kebutuhan2 lain seperti impor dan bayar utang luar negeri…Iya kalau krisis cepat berakhir…gimana kalau berkepanjangan… IMF konon sempat di-approach juga sama pemerintah Indonesia untuk memperkuat devisa negara. Dapat janji kalau tidak salah USD 2 milyar. Pasar uang dalam negeri ikut2an paranoid sehingga likuiditas jadi ketat; padahal tahun 2008 tren dana pihak ketiga sangat positif. Karena pejabat yang bikin keputusan punya memori krismon 1997/1998, kejadian2 tahun 2008 itu sudah jadi semacam “emergency alarm”…. Jangan2….
Bank Century entered the scene…ketuk pintu BI, nangis2 minta bantuan likuiditas…. Wrong request in the wrong time… Entah kenapa dituruti sampai akhirnya dapat label “sistemik” dan di PMS….
Tidak terlalu jauh dari Indonesia, otoritas keuangan Filipina menutup tujuh bank semacam BPR pada bulan Desember 2008. Diberitakan, selama tahun 2008 ada 25 bank dilikuidasi, tertinggi dibanding 2007 dan 2006. (Tidak diketahui berapa banyak bank yang di-bailout). Kayaknya ekonomi Filipina baik2 aja tuh…ekonomi mereka tidak ambruk… (apa karena sebagian besar yang dilikuidasi bank2 kecil macam BPR??) Nasabah Filipina juga nggak tarik dana besar2an lalu pindahin ke negeri lain… Padahal Otoritas Keuangan Filipina hanya meningkatkan nilai penjaminan, tidak menerapkan blanket guarantee… Mestinya mereka ngerti kalau 2008 lagi krisis keuangan global ya…. Atau mungkin daya tahan ekonomi Filipina diam2 lebih kuat dari kita… (cadangan devisanya memang lebih tinggi dari Indonesia…) Atau pembuat kebijakan disana lebih “level headed” nggak buru2 kasi label sistemik (bahkan untuk bank kecil), nggak takut ada bank run, nggak takut sistem keuangan “melting down”….? (kayaknya gitu..mereka lebih kompeten kali yaaa…).
Sri (dah terlanjur…yang penting selamat…maksudnya “Selamat taun baru, everyone!”)
http://www.republika.co.id/koran/0/99704/Analisis_Sistemis_Meragukan
http://otomotif.kompas.com/read/xml/2008/10/31/09582118/negara.berkembang.di.ambang.krisis.nilai.tukar
http://www.cnbc.com/id/32558173
http://www.nytimes.com/2008/10/09/business/worldbusiness/09iht-icebank.4.16827672.html?_r=1
http://www.telegraph.co.uk/finance/financetopics/financialcrisis/3174217/Financial-crisis-Countries-at-risk-of-bankruptcy-from-Pakistan-to-Baltics.html
http://www.nytimes.com/2008/10/24/business/worldbusiness/24won.html
http://www.newsweek.com/id/165771
http://www.nytimes.com/2008/09/25/business/worldbusiness/25emerging.html?_r=1&pagewanted=all
http://english.caijing.com.cn/2008-09-25/110015906.html
http://www.usatoday.com/money/world/2008-09-25-run-on-honk-kong-bank_N.htm
http://assets.opencrs.com/rpts/RS22988_20081120.pdf
http://www.pajak.go.id/index.php?view=article&catid=91%3Aberita&id=8026%3Acadangan-devisa-anjlok-tapi-belum-mengkhawatirkan-kamis-06-november-2008&format=pdf&option=com_content&Itemid=50
http://www.tempointeraktif.com/hg/perbankan_keuangan/2008/09/05/brk,20080905-133879,id.html
Bank closure in Philippines
http://financemanila.net/2008/12/rural-bank-run-10-banks-close-in-a-week/
http://www.asianewsnet.net/news.php?id=3371&sec=2 http://www.reuters.com/article/idUSMAN9514720081021

6 Comments »

  1. haaah… ngomong emang gampang, aplg tinggal nyalahin mereka yg berada di posisi decision maker disana dgn segala konsekuensi yg harus mereka tanggung. bukannya para komentator (cough: ie you) yg bisa seenank jid*t berkomen (untuk itulah mereka diciptakan Tuhan), toh ga ada konsekuensinya utk mrk.😀

    ngutip dari kata2 anda:
    ” Kayaknya ekonomi Filipina baik2 aja tuh…ekonomi mereka tidak ambruk… ”
    saya cm mo ngasih link.. mau ngasih ulasan bernanke nanti kepanjangan:

    http://www.detikfinance.com/read/2009/05/28/153502/1138762/4/ekonomi-filipina-juga-memburuk
    http://www.infoanda.com/linksfollow.php?lh=BlVSAFhTUVQP
    http://web.bisnis.com/keuangan/ekonomi-internasional/1id157937.html

    silahkan dilihat berapa persentase pertumbuhan ekonomi filipina pre dan pasca crisis.

    oh , yg ini gambaran singkat SEBELUM krisis 2006-an
    http://www.kapanlagi.com/h/0000143655.html

    Comment by elissa — February 9, 2010 @ 6:32 am | Reply

    • Mo kasi ulasan bernanke juga nggak papa…cuma jangan asal comot. yang diomongin diartikel ini krisis 1997/1998 (krismon) dibandingin dengan “krisis” 2008 (yang katanya sama dengan 1997/1998). saya dah tengok link yang anda kirim…no use at all. jadi apa maksudnya niih?? kasi komen ditulisan saya boleh kok seenak jidatnya (karena saya bukan pengambil keputusan). Ini tiga link terakhir (yg dari infoanda, bisnis.com dan kapan lagi)…berita filipina tahun 2004 utk apa anda kasi disini? berita filipina th 2006?2010? dan 2009 (yg detikfinance itu 2009)? oke yang terakhir mungkin maksudnya kasi argumen, ekonomi filipina (menurut berita2) tumbuh negatif di tahun 2009? (padahal saya bilang “ekonomi filipina baek2”)….maksudnya kali anda ni berargumentasi, “tuuu lihat Century diselamatkan, ekonomi Indonesia tumbuh positif…” hahaha….. Kocak juga ni kasi argumen asal2an. tapi gak papa…boleh komen seenak jidatnya kok disini…saya nggak senang tinggal delete toh?
      Mereka yg pro bailout (spt anda kali? atas nama prinsip kehati2an) bilang, kalau Century tidak dibailout, akan ada catastrophic kayak 1997/1998. ada apa sih tahun 1997/1998? kurs anjlok, devisa habis, bank dan non-bank bangkrut. filipina ngalami, indonesia juga. inget peristiwa itu yaaaa??? tulisan saya, nyoba cari bukti…pake angka2 (nggak asal komentar kayak anda…), pake teori dikit2 (nggak asal ngomong)….hasilnya ya kayak gitu…. Data speak…..sorry ya…
      Kalimat saya “ekonomi filipina kayaknya baek2…dst” tentu saja boleh anda plintir2 pengertiannya, kayak gimana anda kirim link yang tidak relevan itu. maksudnya saya sih mbandingin: filipina melikuidasi bank, kayaknya nggak sampe terjungkal lagi ke krisis 1997/1998. kok decision maker Indonesia takut melikuidasi Century??? (malah nakut2in kalau ini tidak di bailout….akan ada gini gitu… kasi kek assessment-nya dengan teori2 gitu)
      Don’t worry to send bernanke’s here….sekali lagi, pesen saya, jangan asal comot….karena bernanke ngulas dalam bhs inggris….anda ambil link bahasa indonesia saja banyak gak relevannya. saya tunggu yaa

      Senin, 09 Agustus 2004 | 22:12 WIB
      TEMPO Interaktif, Jakarta: Menteri Keuangan Boediono menegaskan kebangkrutan ekonomi Filipina yang terjadi saat ini tak akan berpengaruh pada ekonomi regional, termasuk Indonesia. “Saya yakin Pemerintah Filipina dengan presiden yang baru bisa mengatasi masalah dengan baik,” katanya di Jakarta, Senin (9/8).

      Boediono menolak berkomentar lebih jauh terhadap perkembangan keuangan Filipina. Negara itu kini dililit utang luar negeri yang mencapi 77 persen dari produk domestik

      Pertumbuhan ekonomi Filipina lampaui proyeksi
      Kamis, 28/01/2010 10:53:56 WIBOleh: Erna Sari Ulina Girsang
      JAKARTA (Bloomberg): Ekonomi Filipina tumbuh lebih pesat pada kuartal IV/2009 dibandingkan dengan proyeksi sejumlah ekonom, setelah negara itu mengalami perbaikan di sektor jasa dan ekspor.

      National Statistical Coordination Board Filipina di Manila hari ini melaporkan produk domestik bruto (PDB) selama kuartal terakhir tahun lalu naik 1,8% dibandingkan kuartal IV/2008. Selama kuartal III/2009 pertumbuhan PDB negara itu mencapai 0,8%.

      Bank Dunia Naikkan Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Filipina

      Rabu, 15 November 2006 08:04

      Kapanlagi.com – Bank Dunia merevisi prediksi pertumbuhan ekonomi Filipina untuk 2006 menjadi 5,5% dari 5,3% sebelumnya, dengan menyebutkan adanya pemulihan dalam sektor pertanian, pertumbuhan ekspor yang mantap dan menguatnya pengiriman uang dari para pekerja Filipina di luar negeri.
      Dalam tinjauan pertumbuhan Asia Timur yang diterbitkan setahun dua kali, Bank Dunia juga menyebutkan peningkatan dalam prediksi produk domestik bruto (PDB) dari 5,6% menjadi 5,7%.
      Laporan itu juga menyebutkan bahwa Manila dapat bertahan dari kemungkinan pengaruh melemahnya ekonomi Amerika Serikat.

      Kamis, 28/05/2009 15:35 WIB
      Ekonomi Filipina Juga Memburuk
      Nurul Qomariyah – detikFinance

      Manila – Filipina kini juga masuk dalam daftar negara ASEAN yang perekonomiannya terpuruk, hingga ke titik terburuk sejak krisis moneter 1998 silam. Meski masih mencatat pertumbuhan alias tidak minus, namun angkanya melambat ke titik terendah sejak 10 tahun terakhir.

      Filipina hanya mencatat pertumbuhan ekonomi 0,4% pada kuartal IV-2009, dibandingkan pertumbuhan 2,9% pada kuartal IV-2008. Pertumbuhan kuartal I-2009 itu adalah terburuk sejak tahun 2998, ketika pertumbuhan ekonomi Filipina anjlok 2,4%.

      Comment by srikripik — February 9, 2010 @ 7:58 am | Reply

  2. dan saya bingung dengan pola pikir bahwa tindakan ANTISIPASI harus memenuhi kriteria yg sama dgn kondisi sebelomnya.misalnya ada gempa 9 skala richter dan nyebabin tsunami,ratusan ribu jiwa melayang. lalu bbrp tahun kemiudian kemudian dit4 yg sama muncul ada gempa 7 skala richter, pilihanya ada dua:

    1. ga usah nyalain alarm -> karena 9 skala richter beda dgn 7 skala richter, dgn resiko kalo terjadi tsunanmi ratusan ribu nyawa lenyap
    2. nyalain alarm -> yg penting evakuasi dulu.

    menurut saya prinsip kehati2an lebih baik dari pada simply negligence atau over confident. dan kalau anda bilang kehati2an yg didasarkan professional assessment adalah paranoid, well saya bilang anda total negligent.

    Comment by elissa — February 9, 2010 @ 6:47 am | Reply

    • kayaknya anda ini belum pernah ngalamin gempa gede ya…moga2 sempat ngalamin deh. setau saya si kalau ada gempa, ukuran 9, 7 apa 4 SR datang belakangan. gempa dulu, baru muncul ukurannya. mana ada orang bisa prediksi skala gempa (sekali lagi skala gempa). jadi, saya nggak ngerti tuh sama komentar anda: …lalu beberapa tahun kemudian ditempat yg sama muncul gempa 7 skala richter, pilihannya (1) ga usah nyalain alarm krn 9 gak sama dengan7 dst…. (2) nyalain alarm yg penting evakuasi dulu. Mo nyalain alarm ya nyalain aja…toh ini gempa, bukan bailout bank jelek….
      prinsip hati2 nggak sama dengan bikin kebijakan asal2an. kebijakan salah (bank jelek dibiarkan hidup lalu dibailout) anda kasih label “prinsip hati2″….wah anda kayaknya pantas jadi pengawas bank di BI tuh… Mengutip potongan kalimat anda terakhir “kehati2an didasarkan profesional assessment…” (dengan bailout Century?)…sampe sekarang, yang namanya sistemik risk atau dampak resiko sistemiknya Century ya cuma muter2 di MoU Eropa (yg isinya mengenai crossborder banking). Anda punya bukti itung2an sistemiknya Century yang pake metode kuantitatif..boleh kasi disini…biar untuk pencerahan yg baca blog ini… Tapi kalau sdh 6 bulan ribut Century masih nggak ketauan juga sistemiknya dimana….sebelah mana professional assessment itu?? selain itu emang anda bisa tunjukin MoU Eropa itu kok dijadikan dasar penilaian sistemik untuk Indonesia? Anak sekolah aja nggak bakal refer ke MoU untuk bikin paper…. Oya. anda bilang “prinsip kehati2an lebih baik”…gimana tuh kok masalah hukum nggak diperhatikan? KK itu emang ada undang2nya? ada kepresnya?? Kalau anda berprinsip, biar hati2 yang penting nabrak aturan…well saya bilang anda totally ignorant

      Comment by srikripik — February 9, 2010 @ 7:35 am | Reply

      • humm,, masalah early warning, dari seismograf kan keliatan saat itu juga. dari pergerakan jarum. sekali2 anda jalan2 coba ke daerah gunung merapi ato ke jepang yg langganan gempa, ada tuh mesinnya,, jarum nya nyala terus 24 jam memantau. jadi pd saat ada pergerakan vulkanik, teknonik, gempa bisa diukur saat itu juga. maksudnya alarm, yah sesaat stlh gempa itu. biasanya kan tsunami muncul stlh 15 menit. jadi BMKG bisa memperingati entah lwt tv, atau spt di hawaii dah pake massive alarm.

        KK ? yo wes tak jawab:
        KK dengan sendirinya telah terbentuk dengan diundangkannya UU
        Nomor 24 Tahun 2004 tentang LPS, yaitu sebagaimana dirumuskan
        dalam ketentuan Pasal 1 butir 9: “Komite Koordinasi adalah komite yang
        beranggotakan Menteri Keuangan, LPP, BI dan Lembaga Penjamin
        Simpanan yang memutuskan kebijakan penyelesaian dan penanganan
        suatu Bank Gagal yang ditengarai berdampak sistemik”.
        Selain itu, dalam kenyataannya, KK telah ada dan beroperasi
        berdasarkan Nota Kesepakatan antara Pemerintah dan BI (tanggal 17
        Maret 2004). Nota Kesepakatan itu mendapat kekuatan dari Pasal II UU
        Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan UU 23/1999 tentang BI (UU BI
        2004), yang bunyinya: ”Sepanjang Undang-Undang sebagaimana
        dimaksud pada Pasal 11 ayat (5) belum ditetapkan maka pengaturan
        sebagaimana dimaksud pada Pasal 11 ayat (5) tersebut dituangkan
        dalam nota kesepakatan antara Pemerintah dan BI

        masalah sistemik ga sistemik masuk ke akademis. namanya juka ekonomi, ilmu sosial, tergantung mahzabnya.
        menurut saya, bailout century dah tepat, indikatornya dari huge capital outflows, rupiah yg terdepresiasi, nyaris ke level 13000, likuiditas kering, cadangan devisa yg turun, negara ttg dah siap2 pake blanket guarantee.. nah mungkin anda dan pikiran simple anda mengatakan bailout century ga tepat, krn bank kecil, ecek2, dirampok, kondisi indonesia jauh lebih siap dari kondisi 97/98. yah itu hak anda

        anyhoo, berhubung saya dah ngejelasin mengenai aspek legalitas kk,, am i still totally ignorant? or you might now admit that being anticipative and law abiding could go hand in hand?😀

        Comment by elissa — February 10, 2010 @ 1:54 pm

      • Baca komentar anda kayak nonton sulap…hehe…dulu berguru sama david coperfield itu ya? tutup sana buka dikit sini supaya seolah2 keliatan ada kelinci….padahal benernya nggak ada…trus minta yang nonton tepuk tangan…horeee…LOL. ntar kalo ponakanku ultah boleh ngramein….anak2 kecil bisa dikibulin dan seneng sama ilusionis…Tapi kalao untuk omongan krisis ekonomi (atau “krisis”),krisis perbankan, bailout bank (bank jelek), sistemik risk, nggak usah pake trik macem2. lha kan jelas domain ilmunya, ekonomi; anda bilang ekonomi (ilmu sosial) tgt mahzab…tapi kan ada “alirannya”, jelas terang benderang…gak usah pake jungkir balik ngeles. Yang diomongin barang keliatan kok bukan mahluk halus macem tuyul apa kuntilanak.
        Kalo mmg 2008 itu krisis (mo disebut krisis ekonomi, moneter, perbankan, bahkan disebut krisis sistemik skalipun), ilmu ekonomi (apapun mahzabnya) siap dengan teori utk jelasin dan buktiin. Krisis dah dipelajari banyak orang. kriterianya ada..tinggal cocokin aja toh ada krisis apa enggak? kalo ada krisis moneter/ekonomi/perbankan di Indonesia 2008 kan bisa dibuktiin/ada ciri2nya (dengan dasar studi atau teori itu)…
        karena krisis dah dipelajari banyak orang (tuh orang2 macem bernanke itu…), cara penanggulangannya juga roughly standar…paling tidak, rekomendasi peneliti2 itu ada, dan mereka kasi rekomendasi gak ngawur atau (ehm) nawarin ilusi… Saran dikit nih: baca deh terbitannya WB/IMF mengenai krisis dan the dos and don’ts -nya. kalao anti IMF/WB bisa juga baca terbitan2 entah buku atau paper ekonom yang dah lama neliti krisis dan cara handlenya. you can start from google scholar….tapi itu kalao memang mau cari tau…bukan cari pembenaran (=self serving kayak anda ini..hehehe).
        kalao mau cari pembenaran, ya itu tadi, jadi tukang sulap….
        Soal resiko sistemik dibilang “masuk akademis”…maksudnya apa sih? Lha “systemic risk” itu emang ada ilmunya kok (sub ekonomi, finance/banking)… Apa mo ngomong resiko sistemik gak pake ilmu? gitu apa maksudnya? LOL….Spt yg kubilang sblmnya, “masalah krisis” itu juga masuk akademis karena dipelajari di ilmu ekonomi.. Nge-handle bank macam century itu juga masuk akademis…ilmunya juga ekonomi (cabang finance/banking)… Nah kalo anda mo bikin argument gak pake ilmu ya silakan aja…tapi jadinya kayak kasus century itu….mbulet muter sana sini, sling words (apalagi liat jungkir baliknya pansus dan ngeles2nya pjbt2 yang dipanggil…). Saya gak favor yang gituan…Sorry… Karena, spt yg dah kubilang, semua itu ada ilmunya, ilmu ekonomi. Itu ilmu yang dikuasai pejabat2 pengambil keptsan. Heran banget, kenapa mereka gak kasi argumen dengan teori2 yang mereka kenal? Kalo semisal resiko sistemik bisa dibuktiin, entah mo pake mahzab apa (jangan mahzab MoU Eropa…) mungkin berisik century ini dah ampir slesai…. Tunjukin aja: nih itungannya, nih teorinya yg dipake, nih buktinya kalao bank ecek2 itu gak dikasi 6.7 t. Paling orang yang bisa counter / crewet nanya gak banyak; karena data kuant ada dan bisa diliat sama2, metodologi jelas, bisa di-redo….

        Begitu juga kalao bailout dianggap satu2nya jalan untuk antisipasi (istilah anda) atau tanggulangi “krisis” 2008… Tunjukin aja leading indicators crisis, tunjukin aja counterfactual analysis kalao gak dibailout…bikin simulasi kan bisa…
        Itu semua gak dilakukan…jadi wajar kalo banyak yg ragu…emang bener apaaa kptsn kmaren itu?? apalagi decision makers yg terlibat kan bukan ahli gempa mendadak jadi gubernur bi atao menkeu….
        (kalo mnurut anda bailout itu ok banget…dgn dasar argumen2 anda itu…ya silakan aja…hehehe…saya nulis ni dah sejak september 2009 dan gak ada tuh yang gak kubaca referensinya….maybe i am missing something…tapi so far yg bisa anda provide toh cuma link url portal berita;….kasi dong referensi akademik…yg bernanke itu paper dia apa pidato?)

        Soal KK…are u still totally ignorant?? hehehe…obey the law mmg bisa hand in hand dgn being anticipative apalagi kalao yang ngomong illusionist (kayaknya hand in hand padahal……).
        Penjelasan UU no 24/2004 ttg LPS pasal 21 (2): Komite Koordinasi adalah komite yang akan dibentuk berdasarkan Undang-Undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (5) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia.
        So, masih butuh UU utk bentuk KK.
        Betul ada nota kesepakatan th 2004 yg merujuk ke pasal 11 (5) UU no3/2004. Pasal ini mengenai apa sih? isinya ini:
        (5) Ketentuan dan tata cara pengambilan keputusan mengenai kesulitan keuangan Bank yang berdampak sistemik, pemberian fasilitas pembiayaan darurat, dan sumber pendanaan yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara diatur dalam undang-undang tersendiri, yang ditetapkan selambatlambatnya akhir tahun 2004.”

        Sampe 2004 UUnya belum ada (= jpsk). th 2008 keluar perpu jpsk. begitu perpu terbit, karena stara dengan uu, ya nota kesepakatan tdk berlaku lagi toh… (anda mungkin akan bilang : lha itu bukan uu tapi perpu….hehe…ya silakan aja deh).
        tapi di perpu jpsk gak ada disebut KK. yg ada KSSK (anda mungkin akan ngotot: haaaaah beda dua S aja resek amat…hehehe….terserah deh). yg bisa ngelimpahin bank ke LPS bukan KSSK tp KK…jadi gimana tuh??
        obey the law could go hand in hand with illusions??
        Btw, blog ini trima spam comment banyak banget kemarin. were those yours?? tuh ada lagi yg nyangkut di antrian… Makanya jangan maen sulap. akismet gak seneng…hehe…silakan aja komentar2 mo seenak jidat kek mao asal ngoceh kek… tapi pake referensi dong–yg mutu gitu jangan cuma link dari vivanews, detik finance….

        Comment by srikripik — February 11, 2010 @ 12:12 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: