Blognya si Sri

October 5, 2009

Keblinger tulisan ekonom

Filed under: bailout,bank century,bank indonesia,pengawasan bank — srikripik @ 3:41 am
Ceritanya, pagi-pagi buka Kompas Senin 5 Oktober 2009, baca tulisan di halaman 15. Saya taruh di blog sini karena saya tertarik untuk nggrundelin tulisan ekonom (tulisan beliau saya paste di bagian bawah). Kalau dibaca hati2, banyak (artinya lebih dari 1) kalimat yang kontradiktif:
  • di bagian atas dibilang : “Gelombang krisis global yang terjadi sesudah 15 September 2008 sesungguhnya adalah dampak dari keputusan [penutupan Lehman Brothers] ini”.
Tapi dibagian bawah dibilang : “Jangan lupa bahwa penutupan Lehman sampai sekarang pun masih diperdebatkan di AS”.
Lho kalau penutupan Lehman masih diperdebatkan, kok bisa menyimpulkan bahwa gelombang krisis global gara2 Lehman ditutup? Memperdebatkan Lehman mustinya di-bailout atau ditutup, hampir pasti menyinggung dampaknya juga. Sebetulnya ada yang bilang di Amerika, yang bikin “gelombang krisis global” bukan Lehman ditutup; tapi pernyataan  otoritas keuangan Amerika di depan Kongres. Mereka bilang, kalau Kongres tidak kasi uang USD700 milyar, akan ada “great depression”. Itu bikin pelaku pasar ketakutan: Amerika menuju great depression lalu bagaimana..???
  • Tulisan Ekonom Tony P. ini juga mem-paralel-kan kelemahan pengawasan SEC (skandal Madoff) dengan kelemahan pengawasan BI (Century) “Skandal Madoff membuktikan bahwa kelemahan pengawasan bisa terjadi di mana pun termasuk Indonesia”.

Menurut saya, kalimat beliau ini juga kontradiktif.  Taruhlah ada kelemahan di SEC sama spt di BI. Tapi begitu ketahuan oleh otoritas pengawas Amerika, Madoff tidak dibailout. Langsung dilakukan investigasi oleh FBI. Skandal Madoff dampaknya juga besar/internasional, karena banyak orang kaya dan yayasan titip uang ke perusahaannya.

Sementara BI, sudah tau kalau Century melanggar peraturan berkali-kali. Tapi begitu kesulitan likuiditas (yang jelas akan terjadi) Century malah dibailout. Pejabat BI ada yang bilang, ada fraud/pembukuan fiktif di Century, tidak bisa dideteksi. Pembukuan fiktif memang susah dideteksi; Madoff konon bikin banyak sekali versi pembukuan. Tapi begitu tau ada fraud, kenapa Century malah dikasi uang makin banyak?
Selain itu, sebetulnya “kelemahan pengawasan SEC” jelas tidak sama dengan “kelemahan pengawasan BI”. Tidak ada indikasi “forbearance” (pemberian keringanan/toleransi) dari pihak SEC baik untuk Madoff ataupun institusi keuangan lain yang akhirnya di-bailout. Sementara di BI, untuk Century, tampak ada forbearance bertahun-tahun. Termasuk juga “negligence” karena ternyata ada pelanggaran BMPK yang tidak diketahui pengawas/pemeriksa BI. 
  • Lalu ada lagi kalimat beliau di bagian akhir: “Meski secara teori tindakan penyelamatan Century menurut saya logis, boleh saja kita mencurigai adanya kejahatan. Karena itu, audit investigatiflah yang akan membuka persoalan ini. Bukan pada valid atau tidaknya kebijakan bailout-nya”.

Kontradiksi kalimat itu, menurut saya, begini: (kalau toh) dari sisi teori penyelamatan (Century atau lembaga apapun namanya) itu benar/logis, berarti kebijakan bailout itu valid (paling tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah). Tapi bagaimana bisa logis/dapat dibenarkan dari sisi teori, kalau ternyata sebenarnya Century ini sudah harus dilikuidasi dari dulu? Bank Century alias Mutiara ini, seharusnya sudah tidak ada lagi ceritanya di tahun 2008.  Saya jadi tidak paham, teori apa yang bikin beliau ini menganggap bailout Century logis dari sisi teori?

Rupanya beliau ini lupa (atau sengaja lupa) menulis fakta bahwa Century bukan bank dengan rekam jejak yang bagus. Bahkan pejabat BI sendiri mengakui dalam sebuah wawancara dgn Tempo (di Tempo Interaktif): mereka lebih suka nutup Century dari dulu tapi takut di PTUNkan karena bank itu sudah berusaha tambah modal (alasan yang menurut saya mengada-ada).

Menurut saya, kontroversi bailout akan lebih “bermutu” (karena tidak meributkan entity yang seharusnya sudah hilang) kalau yang di-bailout bank bagus yang kesulitan likuiditas. Lebih bermutu karena dari sisi teori bisa dipertanggunjawabkan (berani didebat secara ilmiah), dari sisi kredibilitas pengawas tidak akan ada masalah. 

Terus terang, saya menyayangkan tulisan beliau ini. Mbok kalau mau pro bailout Century jangan bikin tulisan yang keblinger begitu. Bukankah akan lebih baik kalau ybs, karena ekonom, mengemukakan argumentasi2 dari sisi ekonomi lengkap dengan datanya. Misalnya, beliau bilang “riskan kalau Century ditutup waktu itu”. Ya paparkan dong datanya secara lengkap. Apa yang bikin Century riskan relatif terhadap size perbankan nasional?

Kalau beliau ini anti likuidasi Century, ya kasih tau estimasi dampak penutupan, lengkap dengan data. Misal beberapa bulan sebelum bailout ada indikasi uang sudah pindah ke negara lain sampai yang tinggal di Indonesia cuma 2/3 nya saja.  Misalnya gitu.

Dengan demikian, ada pencerahan dipihak pembaca. Bukannya malah “di-blinger-blinger” begitu.

Sri (anti pemblingeran)

 

ANALISIS EKONOMI
Sektor Finansial Masih Rawan Kejahatan

Senin, 5 Oktober 2009 | 03:39 WIB

 

 

  

Oleh A TONY PRASETIANTONO

Skandal sektor finansial yang terjadi dalam kasus Bank Century, produk Antaboga, dan Bakrie Life telah memberi kita peringatan keras bahwa ”bom waktu” bisa meledak sewaktu-waktu. Tadinya saya sempat mengira, sesudah kejadian krisis ekonomi 1998—yang terutama dipicu oleh moral hazard dan lemahnya pengawasan—sektor finansial kita segera belajar dan (mestinya) tidak mengulanginya.

Namun, saya salah. Jangankan Indonesia, Amerika Serikat yang pendalaman sektor finansialnya (financial deepening) sudah hebat pun ternyata kejahatan sektor finansial (fraud) masih terjadi.

Krisis ekonomi global dipicu oleh terlalu liberalnya sektor finansial, yang tidak diimbangi oleh pengawasan Securities Exchange Commission (SEC) yang memadai. Akibatnya, timbullah praktik penggelembungan ekonomi, yang suatu saat akan meledak. Saat balon ekonomi itu meledak, yang ditandai bangkrutnya Lehman Brothers pada 15 September 2009 tanpa di-bailout, perekonomian AS dan global pun segera tenggelam dalam krisis besar.

Belakangan, banyak ekonom kritis di AS yang menyayangkan keputusan Pemerintah AS untuk tidak mem-bailout Lehman. Kalau saja bailout dilakukan, bukan mustahil efek domino tidak sedemikian luas ke sektor riil. Belakangan, bahkan Pemerintah AS harus rela mem-bailout General Motors, yang sebenarnya tidak lazim dilakukan.

Dengan kata lain, sebenarnya Lehman Brothers adalah lembaga keuangan yang too big to fail. Terlalu riskan untuk dibiarkan mati tanpa di-bailout. Jika bangkrut, dampaknya fatal, yakni menular ke lembaga lain, bahkan ke sektor riil.

Meski di satu sisi seolah-olah Pemerintah AS tampak berani bertindak tegas untuk menghukum Lehman, sehingga bisa menaikkan kredibilitasnya, di sisi lain tindakan ini tetap berisiko besar. Gelombang krisis global yang terjadi sesudah 15 September 2008 sesungguhnya adalah dampak dari keputusan ini.

Lemahnya pengawasan

Dalam kasus subprime mortgage di AS, Bank Century, Antaboga, dan Bakrie Life di Indonesia, harus diakui itu bisa terjadi karena kelemahan sistem pengawasan. Puncak dari buruknya sistem pengawasan sektor finansial AS adalah skandal Bernard Madoff, veteran pengawas pasar modal AS, yang merugikan nasabah hingga 65 miliar dollar AS.

Sungguh ironis. Bagaimana mungkin negara maju sekelas AS bisa kecolongan sampai sedemikian besar? Apakah SEC atau Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) AS tidak mengauditnya secara benar? Mengapa bisa lama? Apalagi jumlahnya besar, 65 miliar dollar AS? Sungguh tidak logis.

Celakanya, kasus ini sebenarnya sudah diinvestigasi sejak 2001 oleh wartawati Erin Arvedlund, yang menulis di Wall Street Journal dan New York Times. Sayangnya, hal itu tidak digubris otoritas hingga akhirnya meledak tatkala Madoff mengakuinya pada Desember 2008 (Arvedlund, Madoff: The Man Who Stole $ 65 Billion, Penguin Books, New York, 2009).

Skandal Madoff membuktikan bahwa kelemahan pengawasan bisa terjadi di mana pun termasuk Indonesia. Lalu, apa yang salah dalam sistem pengawasan kita?

Dalam kasus Century, kita bisa mengurainya menjadi dua persoalan terpisah. Pertama, bagaimana proses terjadinya bailout, yang semula hanya Rp 600 miliar menjadi Rp 6,7 triliun. Kedua, bagaimana sampai produk surat berharga Antaboga yang dijual di kantor Century, tetapi ternyata bukan produk bank tersebut. Kedua kasus ini terpisah, dengan latar belakang cerita yang berbeda, tetapi keduanya menghancurkan reputasi Century sehingga berujung pada penggantian nama dan logo.

Pada kasus pertama, persoalan mengerucut pada, mengapa Century harus diselamatkan? Mengapa tidak ditutup saja? Apakah benar kegagalan pada Century akan menular ke bank lain secara sistemik?

Terhadap pertanyaan ini, jawabannya adalah, jangan pandang enteng Century. Sebelum November 2008, asetnya Rp 14,5 triliun, dengan dana pihak ketiga Rp 9 triliun. Jumlah yang tidak kecil. Jangan lupa bahwa penutupan Lehman sampai sekarang pun masih diperdebatkan di AS.

Pada November 2008 suasana masih tercekam krisis Lehman, ditambah skema penjaminan deposito oleh Lembaga Penjaminan Simpanan hanya maksimal Rp 2 miliar per rekening, padahal negara tetangga (Singapura, Malaysia, dan Australia) memberlakukan 100 persen penjaminan (blanket guarantee). Pada titik ini, sangat masuk akal jika otoritas kita ”tidak berani” menutup Century. Terlalu riskan.

Meski secara teori tindakan penyelamatan Century menurut saya logis, boleh saja kita mencurigai adanya kejahatan. Karena itu, audit investigatiflah yang akan membuka persoalan ini. Bukan pada valid atau tidaknya kebijakan bailout-nya.

Soal Antaboga, saya juga amat menyayangkan. Para nasabah tidak bisa disalahkan untuk ketidakpahaman bahwa surat berharga itu bukanlah produk resmi Century, meski kedengarannya naif karena nasabah bisa menaruh dananya hingga puluhan miliar rupiah pada produk Antaboga, tanpa mengecek lebih dulu kaitannya dengan Century.

Nasabah Antaboga tak bersalah, tetapi juga tidak bisa otomatis mengklaim dananya ke Bank Century karena tidak ada payung hukumnya. Yang salah adalah sistem pengawasan yang lemah. Sudah bukan saatnya lagi otoritas pengawas mengandalkan diri pada laporan keuangan resmi. Otoritas pengawas pada zaman yang canggih (tetapi juga gila) ini adalah lebih bersikap proaktif. Mereka harus bertindak seperti spion (mata-mata) dengan penuh kecurigaan terhadap transaksi demi transaksi. Memang bakal repot, tetapi apa boleh buat. Sektor finansial tidak bisa lagi diperlakukan secara business as usual seperti dulu.

Harus ada semacam unit intelijen, di mana pengawas harus ”mengendap-endap” memelototi transaksi di lapangan, yang tidak bakal terendus pada laporan keuangan tertulis resmi. Bukankah transaksi Antaboga yang terang-terangan terjadi di konter Bank Century, juga tidak dapat dideteksi dari laporan keuangan bank tersebut?

Pengawasan tradisional di mana akuntan ”memelototi” setiap transaksi laporan keuangan tertulis tampaknya sudah tidak memadai lagi. Akuntan juga harus turun ke lapangan, mengendus, mengendap-endap.

Upaya lain, pengadilan harus menghukum sekeras-kerasnya untuk memberikan efek jera. Di AS, Madoff dihukum 150 tahun penjara, sementara Robert Tantular di sini cuma dituntut 8 tahun penjara, dan akhirnya divonis 4 tahun. Itu pun dia bisa mendapatkan remisi berkali-kali. Alangkah naifnya.

A Tony Prasetiantono Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM; Chief Economist BNI

 

 

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: