Blognya si Sri

September 19, 2009

Dongeng "public relation gaffe": pejabat BI mestinya belajar dari Obama

Filed under: bank century,bank indonesia — srikripik @ 11:09 am
Kontroversi dimulai dengan kejadian pada tanggal 16 Juli 2009 siang hari di Cambridge, Massachusetts.

Seorang wanita melihat dua orang pria berusaha memaksa masuk ke rumah tetangganya. Merasa curiga, si wanita menelpon 911 melaporkan apa yang dia lihat. Tidak lama kemudian, tiga orang polisi datang. Mereka menangkap, memborgol dan membawa satu pria ke kantor polisi.

Seandainya saja si wanita penelpon 911, pria yang memaksa masuk rumah, dan tiga polisi itu memiliki warna kulit yang sama, kejadian itu tidak akan menimbulkan kontroversi. Yang jadi masalah, si wanita berkulit putih, si pria yang ditangkap berkulit hitam, dua dari tiga polisi berkulit putih.

Masalah jadi “besar” (tepatnya dibesar-besarkan) karena ternyata tiga polisi itu “salah tangkap”. Si pria yang nampak memaksa masuk rumah adalah “penghuni rumah” (pintu rumah macet). Tidak hanya itu: si pria korban salah tangkap adalah profesor terkenal di Harvard University, kawan presiden Barack Obama. Isu salah tangkap dan rasis (profiling) jadi “bola liar” ketika presiden Obama berkomentar polisi telah bertindak bodoh (karena menangkap penghuni rumah).

Media masa Amerika mengulas masalah salah tangkap dan rasis dari berbagai sudut: bukankah sudah kewajiban polisi untuk menangkap orang yang dicurigai (apalagi si profesor menolak menunjukan identitas kepada polisi); ada yang bilang kulit hitam selalu dicurigai kalau terjadi tindak kriminal;jajaran polisi juga menyesalkan komentar Obama. Semua detail kejadian diulas, termasuk komentar presiden. Selama 2 minggu presiden Obama, yang sedang menyiapkan rancangan undang-undang kesehatan, diganggu oleh kasus salah tangkap.

Yang dilakukan Obama untuk “menenangkan” ribut-ribut pemberitaan “salah tangkap-rasis-komentar presiden” sangat elegan. Presiden mengundang korban salah tangkap dan satu polisi (kulit putih) ke White House. Ketiganya ngobrol, minum bir, untuk mengklarifikasi posisi masing-masing pada saat kejadian dan kontroversi yang terjadi setelah kejadian itu.

Mestinya pejabat publik Indonesia belajar dari Obama

Polemik dimulai ketika DPR mengetahui biaya bailout bengkak dari 1T menjadi 6T.

Konferensi pers diadakan. Deputi Gubernur Senior menjelaskan, seandainya Century tidak di-bailout akan ada 23 bank yang akan ambruk. Ditambah keterangan oleh Deputi Gubernur bahwa bank sebagus apapun akan collapsed kalau di-rush nasabah. Uang yang harus disediakan kalau banyak bank ambruk 30T. Kesimpulan versi Bank Indonesia, bank Century beresiko sistemik, harus dibantu. Dalam kesempatan itu dipaparkan kronologis kebutuhan dana bank Century dari 1T (tepatnya 0.6T) menjadi 6T.

Publik, yang belum bisa melupakan kasus BLBI (dua kali) ratusan trilyun, mulai menduga ada “sesuatu” dibalik penyelamatan Century.

Konferensi pers berikutnya, pejabat senior (Direktur Pengawasan dan Direktur Pemeriksaan) menjelaskan, di bank Century ada fraud/pembukuan fiktif. Dikemukakan juga, biaya bailout membengkak karena pengawas menghitung secara konservarif kebutuhan modal bank Century.

Penjelasan mereka tidak juga menenangkan publik.

Apalagi tak lama setelah penjelasan dari dua direktur BI, Drajad Wibowo memaparkan, bank Century seharusnya sudah dilikuidasi setidaknya tahun 2003-2004. Bank Indonesia sebenarnya sudah lama mengetahui segala macam pelanggaran yang terjadi, termasuk kekurangan modal bank.

Menteri Keuangan juga menyatakan bahwa pada saat rapat KKSK 2008, Bank Indonesia tidak melaporkan fraud. Yang dipresentasikan adalah dana-dana yang akan jatuh tempo. Wakil Presiden ikut bicara, dan menyatakan, masalah bank Century adalah kriminal. KPK dan DPR minta BPK memeriksa BI.

Karena fakta mengenai Century semakin banyak dipublikasikan, orang semakin ribut mempersoalkan, kenapa bank jelek dan seharusnya sudah ditutup masih diberi kesempatan hidup oleh Bank Indonesia; bahkan diberi modal atas nama “resiko sistemik”.

Kalangan bankir mengambil sikap “sudahlah, bailout Century tidak perlu diributkan” (mungkin karena ingin diperlakukan seperti Century?). Banyak yang berusaha menjelaskan bagaimana situasi pasar uang sangat ketat dan mencekam. Tapi penjelasan itu (situasi pasar uang ketat dan mencekam) tidak bisa atau susah diterima:

  • Indonesia bukan satu-satunya negara yang mengalami ketatnya likuiditas. Mengapa “solusi”nya berupa “preferential treatment”?
  • Bagaimana dengan kondisi 23 bank lain yang berpotensi merugikan negara 30T kalau Century ditutup? Sehatkah mereka? Atau sekelas jeleknya?
  • Mengapa bank yang sudah “karam di dasar laut, diapungkan kembali ke permukaan” dengan biaya 6 trilyun (saya ambil metafor ini dari salah satu komentator di blog Tempo)?

Mengenai penutupan bank yang tidak dilakukan, pejabat Bank Indonesia menunjuk Undang-Undang Perbankan yang perlu direvisi. Juga berdalih, BI bisa di-PTUN-kan kalau menutup Century karena bank itu sudah berupaya tambah modal. Pendeknya, menurut pejabat BI “kami sebenarnya lebih suka menutup Century, tapi tidak bisa”.

Tapi, bukankah peraturan penutupan bank ada di BI? Peraturannya ada tapi tidak di-enforce. Perangkat hukum dianggap kurang mendukung, tapi tidak minta perbaikan ke parlemen.

Mengapa begini cara kerja pengawas bank di BI?

Sebagai perbandingan, April 2009 bank IFI bisa ditutup tanpa dalih macam2.

Mulailah beredar dugaan-dugaan: penyelamatan dilakukan karena ada deposan tertentu yang ingin dilindungi, ada dana kampanye di Century, ada upaya menjegal figur tertentu. Ada juga isu Budiono sengaja menurunkan syarat kecukupan modal bank untuk minta fasilitas diskonto supaya Century bisa mendapatkan fasilitas tersebut.

Perkembangan berikutnya: Budiono sholat jumat di BI. Hari berikutnya, Deputi Gubernur BI mengadakan pertemuan tertutup dengan pengamat-pengamat ekonomi di Hotel Nikko. Kira-kira 1 minggu kemudian, beberapa orang yang hadir di pertemuan itu menulis di media, mendukung tindakan bailout bank Century.

Apa yang terjadi dipertemuan tertutup itu? Kenapa Deputi Gubernur BI lebih suka bertemu tertutup dengan ekonom? (Beruntung ada tulisan Adrian Panggabean yang dengan baik mengulas kontroversi Century dari berbagai perspektif).

Mengapa pejabat publik, terutama pejabat BI, tidak melakukan apa yang dilakukan Obama untuk meredakan kontroversi?

Daripada mengadakan pertemuan tertutup dengan ekonom, bukankah lebih baik mengadakan diskusi berbobot antara ekonom (pengamat) dengan ekonom BI? Diskusi sehat, dihadiri doktor2 bidang ekonomi dan perbankan, mengenai kontroversi “resiko sistemik Century” pasti akan lebih bermanfaat daripada pertemuan “rahasia”. Diskusi dengan jujur a la intelektual terhormat, bukan diskusi yang sudah diskenariokan a la intelektual bayaran untuk menggiring publik ke satu sisi. Bukankah bisa dipresentasikan: hitungan atau model “systemic risk” yang dipakai BI? Stress testing yang dipakai untuk menilai kondisi satu bank tertentu dan industri perbankan secara keseluruhan? pertimbangan bank run? (pernah ada kajian BI mengenai bank run?)

Seandainya diskusi itu diliput wartawan, konsep yang rumit pasti akan lebih bisa dibumikan atau disimplifikasi untuk konsumsi orang yang awam perbankan (seperti saya). Mengapa jawaban atau pernyataan pejabat BI untuk hal-hal ini sangat elusive? Padahal “systemic risk”, “stress test”, “bank run” adalah konsep umum dan jelas di disiplin ekonomi/finance. Mengapa pejabat BI memberikan jawaban yang bersifat “beating the bush”?

Berita terakhir, BPK memeriksa tidak hanya pengawas/pemeriksa bank Century tapi juga unit penelitian dan pengaturan bank. Selama ini staf unit penelitian tidak pernah kena imbas kebijakan kolega mereka di unit pengawasan/pemeriksaan. Ada apa?

Apa terkait dengan perubahan syarat kecukupan modal bank dari 8% jadi 5% untuk mendapatkan fasilitas diskonto?

Controversy continued…

Yang ndongeng dan bingung: Sri

http://edition.cnn.com/2009/US/07/29/gates.arrest/index.html
http://edition.cnn.com/2009/POLITICS/07/30/harvard.arrest.beers/
http://www.cbc.ca/world/story/2009/07/30/beer-obama-racial029.html
http://www.tempointeraktif.com/hg/kolom/2009/09/16/kol,20090916-109,id.html
http://www.tempointeraktif.com/hg/kolom/2009/09/14/kol,20090914-108,id.html

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: