Blognya si Sri

March 14, 2011

Dongengan yang lain…

Filed under: Uncategorized — srikripik @ 4:14 am

Sri juga ndongeng di http://srikripik.wordpress.com . Sekarang sudah ada beberapa catatan atau coret-coret; terakhir saya posting tgl 26 November 2012.

Yang minat silakan…

Trimakasih

Ps: untuk yg curious Sri ndongeng apa, berikut ini ringkasannya

Nov26

Basi: buttermilk bailout dan dongeng dari Islandia

Basi: buttermilk bailout dan dongeng dari Islandia

Ini coret-coret mengenai Century…
Judulnya “basi”, karena tidak ada yang update, tidak ada yang baru.
Tapi basi tidak selalu jelek karena tergantung apa yang basi…ya toh?
Katanya malah enak kalau yang basi adalah “raw milk” (susu sapi segar, susu murni, bukan susu karton atau susu kemasan). Susu murni yang dibiarkan beberapa hari (sour milk) bisa dibikin  buttermilk dan konon bisa bikin cake atau kue makin enak. Kalau yang basi adalah susu karton (spoiled milk)…segera saja dibuang! Bikin sakit perut. Tapi ada juga yang bilang…tidak papa! http://chowhound.chow.com/topics/786889.

Kita semua sudah tau perkembangan terakhir kasus bailoutCentury.
DPR/Tim pengawas, tentu saja “minta lebih”: they smell blood already….
Ada yang tergoda untuk bikin impeachment; padahal seingat saya sekian tahun lalu sudah sepakat pakai jalur hukum.
Demikian juga media…bukan main “histerisnya”…. Sampai-sampai ada media online yang harus meralat dua berita yang sudah terlanjur diposting dalam kaitannya dengan berita “pengumuman dua tersangka”….
Padahal tersangka konon belum ditetapkan….

Bagaimanapun, hal “basi” semacam bailout Century itu bisa jadi “berguna macam buttermilk” (atau bikin sakit perut) untuk mereka yang paham pentingnya sejarah.
Sejarah selalu berulang. Pelakunya saja yang beda. Tanpa ada kemauan memelajari apa yang salah dengan bailout (entah yang dilakukan 2008, 1997/1998 dan bahkan mungkin yang terjadi sebelum itu), kita akan terus terperosok dan melakukan kesalahan yang sama. Belajar juga bisa dari negara lain tanpa harus studi banding karena artikel/buku mengenai krisis ekonomi/keuangan/bank sudah banyak.
Bahkan bagi mereka yang menganggap bailout Century adalah tindakan jitu untuk menyelamatkan ekonomi negara, harus belajar menyiapkan protokol yang lebih rapi jali sehingga kalau mau bailout/menyelamatkan bank jelek (lagi) jangan sampai dikasi label “tindak pidana korupsi” dikemudian hari. Kalau perlu ilmu bailout bank kecil nan jelek diwariskan turun temurun, masuk kurikulum ilmu ekonomi. Tujuannya, generasi Indonesia dimasa depan paham bagaimana menggunakan bailout bank (jelek dan kecil) untuk menghindari krisis ekonomi, menyelamatkan ekonomi dan mendapatkan investment grade dari lembaga pemeringkat. Jadi kalau dulu ada ekonomi Pancasila, dimasa yang akan datang mahasiswa Ekonomi perlu belajar “ekonomi bailout”.
Mari membandingkan kasus bailout Century di Indonesia dengan kasus likuidasi tiga  bank besar di Islandia 2007-2008.

…………………………….

 

It is like deja vu all over again…

It is like deja vu all over again…

http://frogsmoke.com/2011/08/14/pumping-up-the-unpumpable/Compare

Waktu mulai bikin coret-coret ini (minggu terakhir Mei) saya semakin sering baca pemberitaan mengenai “pelemahan Rupiah” terkait dengan pesimisme ekonomi Eropa. Rupiah konon sempat jatuh di Rp 9800 pada hari Jumat 25 Mei 2012. Hari Senin tanggal 28, kondisi rupiah masih tertekan, sampai-sampai harus ada pernyataan dari BI bahwa “likuiditas valas dan cadangan devisa dalam posisi aman”. Ketika saya baca berita pejabat BI bilang perbankan aman http://keuangan.kontan.co.id/news/perbankan-aman-dari-ancaman-krisis/2012/06/11 ; dan sebelumnya juga pejabat Kemenkeu bilang fundamental ekonomi Indonesia kuat…. http://ekonomi.inilah.com/read/detail/1865519/menkeu-ekonomi-ri-kuat-hadapi-krisis-global …wah serasa “it is like deja vu all over again” (ini famous quote Yogi Berra pemain baseball terkenal dari New York Yankees)… Rasanya belum lama baca berita pejabat BI dan menteri keuangan (yang dulu) juga bilang gitu….nggak taunya terus bilang ekonomi Indonesia (sebetulnya) dalam kondisi krisis (sudah seperti tahun 1997/1998) sampai musti ada bailout bank jelek….(saya tidak berharap bikin blog ketiga yang isinya copy paste dengan blog https://grundelanbankcentury.wordpress.com/ )….

Artikel dan berita-berita mengenai pelemahan rupiah membuat saya bertanya-tanya: sebetulnya seberapa besar pelemahan rupiah bisa ditoleransi sebelum ada yang jerit-jerit lagi “krisis…krisis”….dan mungkin diteruskan dengan jeritan “bailout…bailout…”…lalu “pansus…pansus”…..

Menahan kurs Rupiah, menguras cadangan devisa (melambungkan suku bunga?)

Melihat “semangat” pemberitaan mengenai pelemahan rupiah, saya menduga jangan-jangan orang (=jurnalis? pengamat?) “lupa”  kalau rupiah sudah diambangkan…free floating exchange rate (setidaknya formalnya gitu) Sekarang kan 2012 bukan 1992 ketika Rupiah masih di-managed floating (http://www.bi.go.id/web/en/Tentang+BI/Fungsi+Bank+Indonesia/Tujuan+dan+Tugas/pilar1.htm)…. Sampai ada anggapan kalau rupiah terdepresiasi berarti ada trader Singapura  yang sentimen dengan Indonesia. Memang kalau fundamental ekonomi bagus tapi nilai tukar terdepresiasi, berarti kemungkinan ada ulah spekulan (macam Soros). Tapi, “mengambinghitamkan spekulan” setau saya hanya “berlaku” kalau nilai tukar masih fixed, tidak diambangkan. (Speculative attack, katanya, gara-gara fundamental ekonomi tidak bagus. Kalau ada yang “tertular” padahal fundamentalnya bagus, biasanya karena negara itu menjadi mitra atau kompetitor dagang negara yang pertama kali diserang spekulan. Lihat  http://faculty.haas.berkeley.edu/arose/cctrade.pdf ).

……………………………………

@satriayudhafibianto: Struktur organisasi OJK dan “masalah yang lain”

@satriayudhafibianto: Struktur organisasi OJK dan “masalah yang lain”

Tempo hari ada request untuk membahas rencana kerja dan anggaran serta laporan dan akuntabilitas OJK seperti yang tercantum di pasal 34-38 UU No. 21 tahun 2011 mengenai OJK. (Pasal 34-37 mengenai rencana kerja dan anggaran; membahas mengenai sumber dana operasional OJK. Pasal 38 mengenai pelaporan dan akuntabilitas; mengatur mengenai jenis laporan yaitu laporan keuangan dan kegiatan serta frekuensi pelaporan)

Saya tidak tau apakah yang saya tulis ini “menjawab” request Pak Fibianto; soalnya, saya tidak punya kemampuan membahas undang-undang. Jadi, ini bukan coret-coret mengenai pasal 34-38 UU OJK. Ini coret-coret saya (yang bukan pakar strategic management) mengenai strategic alignment OJK: hubungan antara struktur organisasi dengan misi/visi, anggaran, rencana kerja dan pertanggungjawaban. Buat saya, ibarat rumah, struktur organisasi adalah kerangka bangunannya; sedangkan “yang lain” adalah pernik-pernik atau detail yang membuat rumah itu berfungsi sebagaimana mestinya. Menurut saya, untuk organisasi yang baru didirikan semacam OJK, tidak mungkin membahas rencana kerja, anggaran dan pertanggungjawaban tanpa membahas desain struktur organisasi yang dipilih. (Dengan asumsi cara kerja dan teknologi yang dipakai sama, biaya organisasi dengan 50 direktorat biasanya akan berbeda dengan biaya organisasi dengan 20 direktorat) Lain halnya dengan lembaga/instansi yang sudah didirikan; struktur organisasi selalu dianggap given (anggapan yang tidak sepenuhnya benar); biasanya tidak akan diubah drastis kecuali kalau “terpaksa” (=change management). The litmus test untuk OJK, menurut saya, adalah seberapa besar organisasi akan dibikin? (Saya berharap, “jawaban” DK OJK pakai ilmu mendesain struktur organisasi sehingga keputusan mereka berkualitas). Kalau struktur organisasi sudah ditetapkan, “yang lain” akan ngikut saja.

………………………

To bail or not to bail (kisah investment grade dan bailout bank)_2

To bail or not to bail (kisah investment grade dan bailout bank)_2

Awalnya adalah pernyataan yang menurut saya absurd abis: “investment grade didapat karena ekonomi Indonesia selamat dari krisis berkat bailout bank Century”.  Statement itu memang dibikin karena saat Indonesia mendapat upgrade peringkat sovereign debt dari Fitch, hasil audit forensik BPK diserahkan DPR (dan mulai diributkan). Saya lalu iseng cari tau: apa benar investment grade ada kaitannya dengan keselamatan ekonomi nasional dari krisis finansial 2007/2008? Kedua, apa benar bailout bank ada kaitannya dengan keselamatan ekonomi dari krisis??

Dua pertanyaan itu sebetulnya belum ada yang dijawab karena pada bagian pertama malah ngelantur ngomongin  Foreign Direct Investment inflow yang dikait-kaitkan dengan status surat utang Indonesia yang “BBB-” (apalagi setelah dapat kenaikan peringkat dua kali). Yang saya tau dari sekian referensi, tidak ada yang menyimpulkan investment grade atau “sovereign debt rating”  ada kaitannya dengan FDI inflow….(jadi kenapa dihubung-hubungkan ya??).Pada bagian yang kedua ini, moga-moga dua pertanyaan itu bisa dijawab. 

Krisis 2007/2008 dan investment grade

Pada bagian pertama, saya sudah tunjukkan hasil studi orang pinter yang mengidentifikasi beberapa variabel makro yang dibilang memengaruhi rating dari lembaga pemeringkat.  Kalau sovereign rating berkaitan dengan kinerja ekonomi makro, tidakkah investment grade yang didapat akhir 2011 dan awal 2012 menunjukkan ekonomi Indonesia berhasil selamat dari krisis?

……………………………….

Jan29

To bail or not to bail (kisah investment grade dan bailout bank)_1

Rumor badai tropis di Jakarta tempo hari mengingatkan saya pada bailout Century…Soalnya badai tropis biasanya diberi nama perempuan atau laki-laki. Kalau benar ada badai tropis mampir ke Jakarta, bagusnya diberi nama badai “Ken Turi” saja…. Setuju???

Tiga tahun berlalu, saya heran, kok belum ada yang tertarik bikin sinetron atau serial dengan ide bailout Century. Bukankah semua bumbu untuk bikin drama sudah ada? Tidak adakah yang tertarik bikin film horor dengan judul, misalnya, “Kutukan Arwah Ratu Ken Turi”??

Sekarang malah ada tambahan bumbu penyedap: “investment grade”. Bailout dikaitkan dengan investment grade. Ada yang bilang, bailout Century tahun 2008 menyelamatkan ekonomi negara sehingga tahun 2011 Indonesia berhasil mendapatkan status investment grade setelah 14 tahun menunggu….(http://politik.vivanews.com/news/read/274649-audit-forensik-century–pd-sindir-politisi)

Bagaimanapun absurd pernyataan itu (setidaknya menurut saya) tetap ada manfaatnya, karena  ada dua pertanyaan bisa dibikin. Pertama:  benarkah setiap “bailout bank”  (tidak hanya Century) semasa krisis 2007/2008 “menyelamatkan ekonomi”? Kedua, apakah investment grade diberikan karena negara (tidak hanya Indonesia) berhasil “menyelamatkan ekonominya”?

……………………………………………………

Kisah korupsi (dalam tabel korelasi)

Kisah korupsi (dalam tabel korelasi)

No corruption is good, but it is not all created equal

(http://www.fcpablog.com/blog/2010/3/26/not-all-corruption-is-created-equal.html)

Mumpung bulan Desember bulan anti korupsi…ikutan latah bikin coret-coret mengenai korupsi…..

Cukup banyak orang pinter bikin studi mengenai korupsi (dan lebih serius dari coret-coret saya ini). Ada yang mengkaitkan  korupsi dengan kinerja ekonomi, kondisi politik dan pemerintahan, governance/tata kelola, budaya bahkan…agama. Ada yang bikin studi kasus. Ada juga studi eksperimental dengan kesimpulan yang sepintas “aneh” : mahasiswa fakultas ekonomi cenderung lebih korup (!). (Meskipun demikian, eksperimen orang pinter ini mungkin bisa menjelaskan mengapa perbaikan renumerasi tidak berkaitan dengan tumbuhnya kesadaran “anti korupsi”. Katanya, orang/subyek eksperimen cenderung tidak loyal dan mengutamakan keuntungan pribadi walaupun mereka mendapat reward sebagaimana mestinya http://www.icgg.org/downloads/contribution03_frank.pdf).

……………..

OJK dan kanker kotak

OJK dan kanker kotak

Akhir bulan Oktober 2011, Rancangan Undang-Undang Otoritas Jasa Keuangan akhirnya disahkan menjadi undang-undang. Ketua DPR, Priyo Budi Santoso bilang, RUU ini paling alot dibahas. Sebetulnya tidak hanya paling alot tapi juga paling banyak mendapat “halangan”. Sekedar nostalgia, ide pembentukan OJK sudah ada sejak krisis moneter 1997/1998. Pembentukannya terus diundur, dan setiap kali sudah sampai jatuh waktu untuk dibentuk, selalu ada suara atau wacana skeptis mengenai pembentukan OJK (lihat http://waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=122219:wantimpres-indonesia-tidak-perlu-ojk&catid=24:tinjauan-ekonomi).

Bank Indonesia, disebut-sebut selalu berada dibalik wacana “anti OJK”. Hal ini sangat bisa dimengerti karena OJK akan mengambil salah satu “core function” BI yaitu pengawasan dan pemeriksaan Bank. Yang sinis bilang, pengawas/pemeriksa BI tidak mau kehilangan koneksi (apapun artinya) dengan industri perbankan. Saya, lebih suka melihat dari beban BI kalau fungsi pengawasan/pemeriksaan diambil lembaga lain. BI akan kelebihan pegawai dan kelebihan ini tidak sedikit.

……………………………………….

Kisah DMS: haruskah bailout bank berakhir dengan kriminalisasi?

Kisah DMS: haruskah bailout bank berakhir dengan kriminalisasi?

DMS itu singkatan dari Decision Making Science. Mau ditulis lengkap, kok serasa terlalu panjang dan gaya…. Mau diterjemahkan,  kok terdengar aneh…”Ilmu mengambil keputusan”…. Anggota lawak Srimulat akan komentar begini “keputusan kok diambil…memang ember apa??”….

Kalau ada ilmu yang musti dikenalkan sejak dini untuk kepentingan peningkatan kualitas bangsa, kualitas generasi, ya, DMS ini. Setidaknya menurut saya…dan jangan khawatir, saya bukan menteri yang mengurus kurikulum sekolah. Jadi tidak ada beban tambahan pelajaran….

…………………………………..

Menyoal kepemilikan asing pada bank nasional

Menyoal kepemilikan asing pada bank nasional

Kira-kira setahun lalu, antara tanggal 7-12 Oktober 2010 Kompas cetak memuat tulisan dengan tema “nasionalisme ekonomi”. Awalnya adalah tulisan Gita Wirjawan mengenai “pentingnya”membawa investor asing masuk ke Indonesia http://cetak.kompas.com/read/2010/10/07/04310355/nasionalisme.ekonomi. Tulisan ini lalu ditanggapi oleh Kwik Kian Gie http://nasional.kompas.com/read/2010/10/11/03460669/ , Sayidiman Suryohadiprojo http://nasional.kompas.com/read/2010/10/12/03023423/ dan Sonny Keraf http://nasional.kompas.com/read/2010/10/11/03361975/. Tiga penulis yang terakhir ini intinya mempertanyakan apakah strategi undangan kepada investor asing merupakan strategi yang tepat sesuai dengan semangat UUD 1945.

Masalah kepemilikan asing pada perusahaan di Indonesia hampir selalu menjadi “thorny issue”; “love-hate issue”. Mulai dari isu lingkungan hidup, eksklusif, tidak memberikan kontribusi pada penduduk sekitar, dst. Walaupun kalau mau jujur, perusahaan lokal juga banyak yang berperilaku mirip. Kepemilikan asing di industri perbankan Indonesia tiba-tiba menjadi perhatian publik (dalam artian negatif) ketika ada nasabah Citibank tewas karena perlakuan penagih utang yang disewa bank tersebut. Hampir bersamaan dengan kasus debt collector, muncul berita kasus penggelapan dana nasabah oleh staf Citibank. Mulailah muncul wacana dan desakan pada BI untuk membatasi, mengetatkan kepemilikan asing. Intinya, sentimen “nasionalisme ekonomi” muncul di industri perbankan (tepatnya: dikalangan orang-orang yang mengamati industri perbankan).

……………….

Yang dibawah ini coret-coret yang pertama sekali…..

Perbankan Indonesia tidak efisien? (Kisah BOPO dan saingannya)

March 12, 2011

Belum lama ini saya baca berita, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) bilang, efisiensi perbankan Indonesia kalah sama Malaysia dan Singapura, bahkan Vietnam(http://tempointeraktif.com/hg/perbankan_keuangan/2011/03/09/brk,20110309-318865,id.html) . Katanya,  rasio BOPO Indonesia (Biaya Operasi/Pendapatan Operasi) sekitar 80%, tertinggi dibandingkan tiga negara itu. Artinya, perbankan Indonesia paling tidak efisien. Sebetulnya, setau saya,  isu rendahnya efisiensi perbankan Indonesia itu bukan berita. Dari dulu, bahkan jauh sebelum… [Read more…]

Next Page »

Blog at WordPress.com.