Blognya si Sri

January 6, 2010

Krisis (dan “krisis”) dalam gambar_update1

Kalau mau nonton gambar2 krisis dan “krisis”, ini saya ada tambahannya…jangan terlalu serius (apalagi sampe jerit2) karena cuma untuk lucu2an aja. Data masih musti dicek lagi (dari sononya ada yang missing, ada yang tertukar dengan data negara lain, dst dst). Data juga pengennya saya lengkapi sehingga periode 1997-1999 bisa tampak juga proses pemulihannya. Kesulitannya, untuk hal yang sama, sumber data ada yang bisa didownload, ada yang dari print out…format juga nggak sama…ada yang bisa langsung masuk excel, ada yang musti “dimacem-macemin” dulu, ada yang dalam pdf. Satu hal yang saya jamin, gambar tidak bakal tertukar: kondisi 2007-2009 ditampilkan dengan data 1997-1999 (yang kuning itu)….supaya kelihatan gawattt benerrrr…

Iseng2 bandingin kondisi 1997-1998 dengan 2007-2008…Kalau mau serius, perbandingan dua periode itu musti diuji statistik. Tapi karena ini cuma iseng2 aja.. jadinya cuma saya tarik pake excel…just for fun… Data saya kumpulkan dari berbagai sumber: publikasi BI, website BI, dari internet http://fx.sauder.ubc.ca/data.html (untuk data kurs harian). Ada yang sudah dapat sepasang (data kurs dan interbank rate); ada yang belum (maunya pamer data leading indicator krisis). Untuk yang sudah didapat, gambar2nya bisa ditonton dibawah ini….
Kurs rupiah terhadap dolar dari tanggal 2 Juni 1997-31 Juli 2000 (data harian):
Kurs rupiah terhadap dolar bulan Juni 1997 sekitar 2400, tapi akhir 1997 sudah diatas 5000. Nilai rupiah terus memburuk, dalam waktu kurang dari 1 bulan sudah 14000 (23 Januari 1998). 17 Juni 1998 sempat 16000. Setelah itu terus menguat dibawah Rp 10000 (mulai Oktober 1998). Bagaimana gejolak kurs tahun 2007/2008?? Apa benar “melonjak-lonjak”? Berikut ini gambarnya…
Kurs rupiah terhadap dolar 1 Juni 2007 – 31 Juli 2009 (data harian):
Juni 2007, kurs rupiah sekitar 8800, tapi 24 Oktober 2008 sudah 10000 . 3Desember 2008 sempat sampai Rp 12000; lalu agak menguat, melemah lagi Maret 2009. Setelah itu trend rupiah terus menguat. Kalau dua grafik dibandingkan, (mata nggak lagi belekan ni…), jelas gejolak kurs rupiah 1997/1998 tidak sama dengan 2007/2008. Tapi stabilnya kurs rupiah ada harganya…Krisis keuangan internasional membuat modal asing di Indonesia “dipanggil” pulang. Akibatnya permintaan dolar naik. Supaya kurs tidak terlalu berfluktuasi, BI melakukan intervensi; cadangan devisa dipakai untuk jaga kurs, sehingga bulan November 2008 devisa Indonesia tinggal USD 50 milyar (lihat gambar cadangan devisa di bawah). Jumlah itu terendah di 2008. BI juga melonggarkan GWM valas dan (kalau tidak salah) aturan posisi devisa neto. Tujuannya supaya pasokan dolar di pasar bertambah, dan orang tidak kejar2 dolar.

Rupiah sempat terpelanting ke 10000, salah satu sebabnya pada bulan September 2008, di Amerika banyak kejadian penting. Pertengahan September Lehman Brothers menyatakan diri bangkrut. Kira2 dua hari setelah Lehman, AIG di-bailout pemerintah Amerika. Beberapa hari kemudian Paulson dan Bernanke datang ke Kongres minta USD 700 milyar dalam rangka penyelamatan ekonomi Amerika. Krisis yang berawal di sektor keuangan Amerika akhirnya sudah mempengaruhi ekonomi negara2 lain. Pemerintah Islandia sampai bangkrut karena semua bank2 nya ambruk (aset tiga bank utama sudah 14x GDP negara itu. Bank2 Islandia membiayai investasi dari international money market yang mendadak kering saat krisis Amerika menular ke Eropa) . Rusia dan IMF sudah dijajaki untuk pinjam uang. Sementara itu pemerintah negara2 di Eropa Timur, Amerika Latin, Asia Selatan, sampai Asia Tenggara intervensi habis2an untuk mempertahankan mata uang masing2. Ini gambar2nya…

(Sebelum nonton gambar, sekali lagi mengenai data: Cadangan devisa (Reserve assets) datanya saya ambil dari Indonesian Financial Statistics (Stastistik Ekonomi Keuangan Indonesia). Angka2 cadangan devisa di publikasi tersebut bersumber dari International Financial Statistics terbitan IMF. Definisi cadangan devisa IMF agak beda: tidak termasuk emas moneter. Sehingga, cadangan devisa Indonesia menurut IMF (pada bulan November 2008 misalnya) lebih kecil sekitar USD2 milyar.)

Korea Selatan memiliki cadangan devisa sekitar 4-5 kali cadangan devisa Indonesia. Pertengahan 2008 cadangan devisa Korea (garis biru) masih sekitar USD 247 milyar. Tapi dalam waktu 4 bulan, November 2008, cadangan devisa Korea tinggal USD 200 milyar. Malaysia juga mengalami hal yang mirip. Grafiknya seperti ini:

Malaysia (garis pink) pada Juli 2008 punya cadangan devisa USD 125 milyar, tapi bulan Desember2008 tinggal USD 91 milyar (berkurang 27%). Memang tidak semua negara mengalami tekanan cadangan devisa sekitar bulan September- November 2008. Cadangan devisa Hong Kong meningkat sedikit; demikian pula Filipina. Akan tetapi, di beberapa negara utama Amerika Selatan, kondisinya tidak jauh beda: cadangan devisa berkurang karena pemerintah melakukan intervensi menstabilkan mata uang.

Kejadian2 di luar Indonesia itu, mungkin, “rekindle ugly memory” pejabat otoritas keuangan di Indonesia. Jangan2 ini kayak sepuluh tahun lalu…. Sepuluh tahun yang lalu dimulai dari Thailand..bagaimana kalau kali ini dimulai dari Malaysia?? Beberapa negara tetangga mulai memberlakukan blanket guarantee untuk mengimbangi negara pesaing (seingat saya, yang mulai Hongkong, lalu diikuti Singapore)… Ibarat terperangkap ditengah badai, tidak ada yang tau kapan badai akan berakhir… Korea yang cadangan devisa jauh lebih besar saja kehilangan USD 47 milyar hanya dalam waktu 4 bulan sebagian besar untuk menstabilkan Won..dan jumlah itu sama dengan seluruh cadangan devisa Indonesia…Gimana kalau badai ini berkepanjangan…gimana bisa bertahan dengan devisa pas-pasan gini?? …siapa yang tau kapan krisis sub prime mortgage berakhir?

Ada “hantu” likuiditas di pasar uang

Pada bulan2 itu (sekitar September 2008), pasar uang virtually dissapear. Bank2 tidak mau meminjamkan uang ke counterparty. Ini terjadi dimana-mana, termasuk di Indonesia. Ada yang bilang, situasi pasar uang mencekam mirip kondisi 1997-1998. Apa benar gitu? Kita tonton dulu gambar 2007-2008… Kalau lihat grafik suku bunga overnight di pasar uang Indonesia, tahun 2008 semester kedua sebetulnya tidak terlalu berfluktuasi walaupun bisa sampe 9%. (Bank Century dapat LOLR dan di PMS bulan November 2008). Suku bunga rata2 overnight tahun 2007 malah lebih berfluktuasi dibanding semester kedua 2008 dan tahun 2009. Ini grafiknya: 

Suku bunga overnight transaction di pasar uang, sesi sore, rata2 tertimbang, dari Januari minggu pertama 2007-Oktober minggu keempat 2009:

Bulan Maret 2007 minggu keempat bunga overnight transaction 10.77%, tapi dua minggu kemudian sudah 8%. Oktober 2007 minggu ketiga malah 2.15%, tapi November 2007 minggu pertama sudah 10.62%. Maret 2008, suku bunga overnight rata-rata jadi sekitar 8%; sejak itu suku bunga jadi lebih stabil walau tren-nya meningkat. November 2008 jadi sekitar 9% (naik dua kali lipat dibandingkan Januari minggu pertama 2007; tanda uang mahal). Setelah itu tren suku bunga overnight terus turun jadi sekitar 6%. Coba bandingkan gambar di atas dengan gambar suku bunga interbank periode 1997-1999 di bawah ini:

Suku bunga call money transaction, rata2 tertimbang, dari Januari minggu pertama 1996 sampai Januari minggu kedua 2000:

Dari gambar di atas, kita bisa sama2 lihat suku bunga call money periode Agustus 1997-1998 berfluktuasi dengan tren meningkat, beda dengan periode 2007/2008 (selama satu setengah tahun berfluktuasi, tapi tren tidak meningkat). Pada bulan Agustus 1997 minggu pertama, suku bunga call money mulai meningkat dari sekitar 12% persen jadi sekitar 23.19%; minggu kedua sudah 26.23%; minggu ketiga melonjak jadi 136.86%. Sejak itu, suku bunga call money tetap “terbang” diatas 20% (bahkan diatas 30%) kira2 selama 2 tahun. Baru pada bulan Agustus 1999 suku bunga kembali sekitar 12%. (Data interbank transaction yang tersedia untuk dua periode itu sebetulnya tidak persis sama. Data 1996-2000 adalah data suku bunga call money transaction; sedangkan data 2007-2009 adalah data suku bunga overnight transaction sesi sore. Grafik sesi pagi tidak jauh beda.)

Gosip di jalanan…

Yang bikin suasana September 2008 makin “kelabu”, adalah berita bank run di Hong Kong. Tanggal 25-26 September 2008, nasabah Bank of East Asia Hong Kong rame2 tarik dana. Rumor yang disebarkan lewat sms bilang, bank ini punya eksposur besar di Lehman Brothers dan AIG; sebentar lagi diambilalih pemerintah. Bank of East Asia adalah bank kelima terbesar (ada yang bilang ketiga terbesar). Manajemen bank mengakui punya eksposur di Lehman Brothers dan AIG, tapi tidak banyak. Tapi seminggu sebelumnya bank juga mengumumkan ada penggelapan di transaksi derivatif sehingga ekspektasi earning musti dikoreksi. Rating agency S&P dan Moody’s langsung downgrade dan kasi rating negatif.

Kantor cabang Bank of East Asia di Singapore juga kena imbas rush nasabah. Tapi, bank run di Bank of East Asia tidak menjalar ke bank lain. Setidaknya, tidak ada berita, bank2 lain di Hong Kong juga diserbu nasabah untuk tarik dana. Mirip seperti Northern Rock. Orang antri dua-tiga hari, tapi nasabah bank2 lain relatif tenang. (Mengenai bank run, saya tulis di http://grundelanbankcentury.blogspot.com/2009/09/dongeng-bank-run.html).

Bagaimana situasi dana pihak ketiga Indonesia 2007-2009? Apa dalam kondisi “gawat dana” seperti tahun 1997-1999? Coba kita tonton sama2 gambarnya ya… ini yang 2007-2008 dulu…

Dana pihak ketiga Juli 2007-Juli 2009

Garis ungu tebal adalah total dana pihak ketiga (tidak termasuk BPR) Juli 2007-Juli 2009. Angka2 sudah disesusaikan dengan GDP deflator tahun masing2; kecuali untuk data 2009 pakai GDP deflator 2008. Ada drop lumayan besar dari bulan Desember 2007 ke Januari 2008. Nampaknya ini pengaruh inflasi (?) karena angka GDP deflator juga besar (di gambar kredit juga begini).

Kembali ke dana pihak ketiga: walaupun ada “drop” besar bulan Januari 2008, pengumpulan dana masyarakat terus berlangsung dengan baik; trendnya oke2 aja…kayaknya sih 2007-2008 tidak seperti yang 1997-1999… Mau lihat? Ini gambarnya…
Dana pihak ketiga Januari 1997-Desember 1999
Ada drop sedikit bulan November 1997; waktu itu kurs rupiah sudah mendekati 4000, suku bunga call money sekitar 37%-47%. Bunga tabungan mungkin juga meningkat (belum sempat cari datanya) ;tapi kondisi berubah drastis pada tahun 1998.
Menurut saya, ada beberapa hal menarik dari gambar dana 1997-1999: pertama, total dana di industri perbankan “terjun bebas” dari Desember 1997 ke April 1998; tapi lalu meningkat lagi Juni 1998. Ingat gambar kurs rupiah Desember 1997 (jauuuh di atas ya…)…Rupiah terdepresiasi 100% dari 2400an jadi 5000an. Pemerintah sudah tidak bisa lagi defend rupiah, akhirnya rupiah diserahkan ke pasar. Situasi politik, inkonsistensi pemerintah Indonesia dengan IMF, kerusuhan etnis ikut bikin penabung was-was… Akhirnya orang tarik uang rame2… Ketika masyarakat mulai datang lagi ke bank (Juni 1998), sebagian dana tidak kembali ke industri perbankan. Mungkin kabur ke luar negeri bersama-sama pemiliknya… (ini namanya “panic”, bukan hanya “bank run”). Tren total dana dibulan2 berikutnya juga tidak meningkat, landai saja… Ekonomi kontraksi, orang tidak banyak punya sisa uang untuk ditabung….
Hal menarik yang kedua, kalau dilihat gerakan dana menurut kepemilikan bank, nampaknya tidak semua jenis bank mengalami “bleeding” pada masa “gawat dana” sepuluh tahun lalu. Bank swasta nasional (garis pink) mengalami rush paling parah-for obvious reasons (sentimen konglomerat…jangan2 besok pagi banknya sudah lenyap ditelan krisis, dst)… Tapi coba lihat bank yang dimiliki pemerintah daerah (garis hijau) dana mereka stabil; bank pesero (garis biru) setelah April 1998 dana yang dihimpun malah meningkat lebih banyak dari sebelum krisis. Juga bank asing: tren dana malah meningkat, tidak ada drop (mungkin mereka malah pengen tolak dana kalau bisa). Dengan kata lain, periode 1997-1999 ada “panic”, tapi ada juga “flight to quality” atau “flight to safety”. Masyarakat milih2 tempatkan uangnya; mereka untuk sementara tidak percaya sama bank swasta nasional (siapa bilang depositor cuma bisa panik dan melakukan hal2 irasional??)
Banyak yang bilang, bailout Century itu justified karena kalau tidak dibailout akan terjadi geger perbankan: bank run, nasabah pindahin uang ke negeri lain, dst2. Saya sudah tunjukan gambarnya ya…bahkan pada saat “gawat darurat ekonomi”, dana yang sempat keluar dari industri perbankan “hanya” sekitar 30% (antara Desember1997- April 1998); lalu balik lagi sekitar 20% bulan Juni 1998. Jadi total yang hilang 10% (antara Desember 1997-Juni 1998; ini itungan bodo2an). Padahal waktu itu belum ada LPS (baru dibikin 2004).
Kekacauan dalam industri perbankan sendiri juga parsial: seperti yang saya bilang barusan, hanya bank swasta nasional yang kena paling parah. Mereka juga kehilangan nasabah (= banyak yang tidak balik, pindahin dana ke bank non swasta nasional)… padahal waktu itu dah gawat bener toh? Banyak bank ditutup dan kena isu macem2…apalagi kurs rupiah melonjak2 beneran…
Lha Century itu kalau ditutup November 2008 apa bisa bikin BCA klenger (lagi) karena di-rush nasabah??? (=Century jadi pemicu “kekacauan perbankan”?) Atau penutupan Century tidak bisa dilakukan karena waktu itu sudah ditengah krisis (kalau dilihat dari gambar2 kayaknya tidak ditengah krisis…belum lagi mulai di Indonesia…)
(Sampai sekarang, bailout Century dan argumentasinya susah masuk diakal saya…Dipikir2 kok mirip cerita adanya WMD di Irak yang berusaha dijejalkan GW Bush ke dunia…akhirnya terbukti bukan WMD-Weapon of Mass Destruction tapi WMD-Weapon of Mass Deception… )
Kalau pada masa krisis 1997-1998, kondisi dana seperti itu, gimana kreditnya?? Saya tunjukkan yang kuning dulu….
Kredit Januari 1997-Desember 1999
Tren kredit 1997-1999 mirip dengan tren dana periode itu-seperti huruf M. Bedanya dengan gambar dana, kredit langsung drop banyak sekali setelah Juni 1998. (Sayang data setelah 1999 belum dapat…nanti di update lagi supaya bisa ditonton kapan recovery).
Lalu kredit 2007-2009 itu seperti apa tren-nya?…coba tebak…ya… seperti dana yang dihimpun bank diperiode yang sama… Kayak gini gambarnya…

Kredit Oktober 2007-Oktober 2009

Seperti yang sudah saya kemukakan, ada drop besar antara Desember 2007 dan Januari 2008; mungkin karena inflasi (?). Tapi yang jelas, dana pihak ketiga trennya bagus, kredit juga bagus… Apa dengan melikuidasi Century (November 2008 atau bahkan sebelumnya) semuanya bisa berantakan?? Bulan berikutnya ekonomi Indonesia terjun bebas seperti periode Desember 1997-April 1998? Lalu terjadi kontraksi ekonomi di tahun 2009-2010 karena “kualat”-tidak bailout Century??… Susah dicerna ini… (anyone can help maybe??)…

Menurut saya, disinilah letak pentingnya argumen resiko sistemik. Kalau pengawas BI bisa membuktikan bahwa likuidasi Century (= tidak di PMS) akan mengakibatkan geger ekonomi (sehinga sama dengan periode 1997-1998, atau bahkan lebih buruk lagi), ya berarti kebijakan itu justified. Masalah nabrak peraturan dan undang-undang mungkin bisa dianggap “terpaksaaaaaa banget”. Tapi kalau analisa resiko sistemik saja tidak tuntas (seperti yang ditulis Imam Sugema di Republika 4 Januari 2010), bagaimana orang percaya? Awam kayak saya, akhirnya wondering “gimana penalarannya, dari level individual bank sekaliber Century ditarik ke level makro (kurs, situasi pasar uang, total dana pihak ketiga yang dikhawatirkan “lari”, dst)??”. Sistemiknya dimana Century itu??

Memang kurs rupiah tahun 2008 sempat drop; memang cadangan devisa sempat banyak terpakai untuk mempertahankan rupiah (ini tugas BI). Tapi apa waktu itu tidak ada yang kasi presentasi leading indicator currency crisis, banking crisis, speculative attack dan sebangsanya ke pejabat yang musti bikin keputusan??? (Sehingga bisa bedain fenomena yang “begitu” benernya nggak perlu bikin mereka “cold feet” lalu kalap bailout bank jelek??) Bawahan yang “membiarkan” atasannya bikin keputusan gombal, mustinya dibuang ke laut aja….Sebaliknya atasan yang sengaja bikin keputusan gombal biar sudah dikasi advis bagus sama bawahan2nya…mustinya diapain ya….
Lain Indonesia, lain Filipina…
Jadi settingnya di Indonesia pada saat itu kira2 gini: kondisi cadangan devisa semester kedua 2008 agak mengkhawatirkan. Otoritas keuangan tidak tau seberapa banyak lagi devisa harus dipakai untuk menstabilkan rupiah. Belum lagi kebutuhan2 lain seperti impor dan bayar utang luar negeri…Iya kalau krisis cepat berakhir…gimana kalau berkepanjangan… IMF konon sempat di-approach juga sama pemerintah Indonesia untuk memperkuat devisa negara. Dapat janji kalau tidak salah USD 2 milyar. Pasar uang dalam negeri ikut2an paranoid sehingga likuiditas jadi ketat; padahal tahun 2008 tren dana pihak ketiga sangat positif. Karena pejabat yang bikin keputusan punya memori krismon 1997/1998, kejadian2 tahun 2008 itu sudah jadi semacam “emergency alarm”…. Jangan2….
Bank Century entered the scene…ketuk pintu BI, nangis2 minta bantuan likuiditas…. Wrong request in the wrong time… Entah kenapa dituruti sampai akhirnya dapat label “sistemik” dan di PMS….
Tidak terlalu jauh dari Indonesia, otoritas keuangan Filipina menutup tujuh bank semacam BPR pada bulan Desember 2008. Diberitakan, selama tahun 2008 ada 25 bank dilikuidasi, tertinggi dibanding 2007 dan 2006. (Tidak diketahui berapa banyak bank yang di-bailout). Kayaknya ekonomi Filipina baik2 aja tuh…ekonomi mereka tidak ambruk… (apa karena sebagian besar yang dilikuidasi bank2 kecil macam BPR??) Nasabah Filipina juga nggak tarik dana besar2an lalu pindahin ke negeri lain… Padahal Otoritas Keuangan Filipina hanya meningkatkan nilai penjaminan, tidak menerapkan blanket guarantee… Mestinya mereka ngerti kalau 2008 lagi krisis keuangan global ya…. Atau mungkin daya tahan ekonomi Filipina diam2 lebih kuat dari kita… (cadangan devisanya memang lebih tinggi dari Indonesia…) Atau pembuat kebijakan disana lebih “level headed” nggak buru2 kasi label sistemik (bahkan untuk bank kecil), nggak takut ada bank run, nggak takut sistem keuangan “melting down”….? (kayaknya gitu..mereka lebih kompeten kali yaaa…).
Sri (dah terlanjur…yang penting selamat…maksudnya “Selamat taun baru, everyone!”)
http://www.republika.co.id/koran/0/99704/Analisis_Sistemis_Meragukan
http://otomotif.kompas.com/read/xml/2008/10/31/09582118/negara.berkembang.di.ambang.krisis.nilai.tukar
http://www.cnbc.com/id/32558173
http://www.nytimes.com/2008/10/09/business/worldbusiness/09iht-icebank.4.16827672.html?_r=1
http://www.telegraph.co.uk/finance/financetopics/financialcrisis/3174217/Financial-crisis-Countries-at-risk-of-bankruptcy-from-Pakistan-to-Baltics.html
http://www.nytimes.com/2008/10/24/business/worldbusiness/24won.html
http://www.newsweek.com/id/165771
http://www.nytimes.com/2008/09/25/business/worldbusiness/25emerging.html?_r=1&pagewanted=all
http://english.caijing.com.cn/2008-09-25/110015906.html
http://www.usatoday.com/money/world/2008-09-25-run-on-honk-kong-bank_N.htm
http://assets.opencrs.com/rpts/RS22988_20081120.pdf
http://www.pajak.go.id/index.php?view=article&catid=91%3Aberita&id=8026%3Acadangan-devisa-anjlok-tapi-belum-mengkhawatirkan-kamis-06-november-2008&format=pdf&option=com_content&Itemid=50
http://www.tempointeraktif.com/hg/perbankan_keuangan/2008/09/05/brk,20080905-133879,id.html
Bank closure in Philippines
http://financemanila.net/2008/12/rural-bank-run-10-banks-close-in-a-week/
http://www.asianewsnet.net/news.php?id=3371&sec=2 http://www.reuters.com/article/idUSMAN9514720081021
« Previous PageNext Page »

The Rubric Theme. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.